LombokPost-Beberapa unit usaha milik InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) seperti perhotelan mulai merasakan dampak efisiensi anggaran.
Namun, bos ITDC Ari Respati berpendapat kebijakan efisiensi ini adalah kesempatan untuk memikirkan strategi yang tidak hanya mengandalkan sektor pemerintahan.
“Tapi saya rasa ini adalah masa penyesuaian. Kalau saya sih menyampaikan ke teman-teman, jangan sebut ini masa efisiensi. Kalau efisiensi takutnya demotivasi begitu loh,” ujar Direktur Utama ITDC Ari Respati, Sabtu (13/3).
Ari mencontohkan, pada kawasan ITDC di Nusa Dua Bali, okupansi hotel mencapai hingga 70 persen.
Itu karena benar-benar mengandalkan wisatawan yang berlibur.
“Artinya, Nusa Dua itu benar-benar kawasan terintegrasi tourism yang mengandalkan benar-benar orang liburan. Tidak mengandalkan market pemerintah,” terangnya.
Menurut dia, kini saatnya pelaku usaha akomodasi dan sebagainya tidak hanya mengharapkan pasar pemerintahan.
Benar-benar wisatawan yang datang berlibur ke daerah masing-masing.
“The real tourism ini yang diharapkan pemerintah,” cetus Ari.
Dalam kasus Lombok, Ari mengaku tidak mudah bagi Pullman Lombok Mandalika Beach Resor yang kini mulai terdampak.
Meski demikian, dia menilai ketergantungan terhadap anggaran pemerintah tidak akan berlangsung lama.
Sebab, peluang sport tourism di KEK Mandalika merupakan pasar strategis.
“Apalagi jika Sirkuit Mandalika kerap atau lebih sering menggelar event balapan atau event apa pun,” beber dia.
Dia yakin dalam lima tahun ke depan, kawasan Mandalika akan banyak berubah sebab sudah mulai banyak menerima komitmen keberminatan dari para investor.
Berlanjut pada kontrak kemudian dilanjutkan dengan pembangunan selama 3 tahun.
“Jadi 2028-2029 udah banyak perbedaan. Memang sekarang ini belum banyak berubah, ya karena terdampak kemarin (Covid-19 dan isu geopolitik). Tapi sekarang kan terbukti iklim investasi di Mandalika sangat bagus,” katanya. (ewi/r6)
Editor : Kimda Farida