LombokPost-Sebanyak 2.200 ton beras dikabarkan masuk ke NTB, belum lama ini. Terkait hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB Muhammad Taufik Hidayat menduga, masuknya ribuan ton beras itu untuk kebutuhan bisnis ritel modern, bukan cadangan beras pemerintah (CBP).
Dikatakannya, kabar 2.200 ton beras yang masuk ke NTB itu perlu ditelisik terlebih dahulu. Terlebih lagi, tidak ada laporan mengenai beras tersebut yang masuk ke gudang penyimpanan Bulog NTB. “Saya khawatirnya itu beras premium yang dijual di supermarket,” ujarnya.
Menurut Taufik, saat ini perlu dipikirkan cara agar beras premium di ritel modern ini diproduksi di NTB. Artinya, supermarket dan minimarket diimbau untuk membeli atau memproduksi dengan beras premium lokal NTB. “Jadi bukan masuk ke pasar umum, karena faktanya di supermarket di sini beras premiumnya dari luar NTB,” sambungnya.
Lebih lanjut, dirinya khawatir gabah yang dikirimkan ke luar NTB justru dikirimkan kembali dengan labeling sebagai beras premium dari daerah lain. Sehingga perlu dikondisikan agar supermarket dan minimarket mau membeli atau memproduksi dengan beras premium lokal. “Kalau bisa, kita sendiri pengadaan beras premium, sehingga NTP dan NTUP kita naik lagi,” jelasnya.
“Jangan sampai NTP naik tapi hanya dinikmati sedikit petani,” tandasnya.
Menanggapi hal ini, Karo Perekonomian NTB Wirajaya Kusuma mengatakan akan mengagendakan pembahasannya dalam rakor TPID. Sebab untuk membuat ritel modern mau menyerap beras premium lokal, perlu dilakukan pembahasan lintas sektoral. “Ada Disdag, Dinas Ketahanan Pangan (DKP), asosiasi pedagang, dan stakeholder lainnya,” ujarnya.
Gagasan Kadistanbun NTB tersebut dinilai menarik karena bisa mengoptimalkan serapan gabah petani NTB nantinya. Sebab berdasarkan informasi Bulog NTB, kualitas beras NTB banyak yang sama seperti beras premium. “Jangan sampai beras NTB dilabeling daerah lain (sebagai beras premium, Red), ini akan merugikan NTB. Nanti akan dibahas di Rakor TPID sehingga benar-benar bisa mengoptimalkan serapan gabah petani kita,” pungkasnya. (fer/r6)
Editor : Prihadi Zoldic