LombokPost-Meski bukan usaha besar, namun berjualan kuliner khas Lombok ini memang cukup menjanjikan.
Hampir semua orang suka dengan kuliner legendaris atau tradisional Lombok ini.
Nama kuliner adalah pelecing opak-opak. Yakni pelecing kangkung yang disantap bersama opak-opak atau kerupuk ubi khas Kabupaten Lombok Utara (KLU).
Pelecing kangkung merupakan kuliner yang sudah tidak asing di telinga masyarakat lokal hingga wisatawan.
Menu satu ini diminati berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak hingga dewasa.
“Saya rasa semua orang sudah tahu pelecing itu seperti apa, tapi yang khas di sini, dimakan dengan opak-opak,” ujar Siti Rahma, salah satu penjual pelecing opak-opak di Semenyer, Desa Selelos, Gangga.
Pelecing opak-opak menjadi unik lantaran cara penyajian yang unik. Kangkung, tauge dan kacang panjang disajikan di atas opak-opak sebagai wadahnya.
Kemudian ditaburi dengan kelapa parut dan disiram dengan bumbu pedas khas pelecing kangkung.
“Saya kadang tambahkan taburan kacang goreng untuk menambah selera konsumen,” sambungnya.
Cara makan kuliner ini pun juga unik. Pelecing kangkung tersebut dimakan bersamaan dengan opak-opak yang menjadi wadahnya.
Pembeli biasanya akan mematahkan bagian pinggir opak sesuai dengan ukuran yang diinginkan.
Kemudian potongan tersebut digunakan untuk mengambil pelecing kangkung yang ada di bagian tengah opak dan menyantapnya.
“Jika biasanya opak dimakan dengan dicelupkan kopi hitam, opak-opak juga disantap dengan pelecing kangkung,” sambungnya.
“Rasanya lezat, apalagi bagian opak yang sudah melempem karena terguyur bumbu pelecing kangkung tadi,” imbuhnya.
Harga seporsi pelecing opak-opak mulai dari Rp 5-10 ribu, tergantung pesanan pembeli.
Dalam sekali jualan, dirinya bisa menghabiskan sekitar 30-35 keping opak-opak.
“Hasilnya lumayan, modalnya tidak besar, kecuali pas harga cabai mahal, saya tidak berani buat bumbu yang terlalu pedas,” tandasnya. (fer/r6)
Editor : Kimda Farida