Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Saatnya Ramai-ramai Bersuara ke Pusat, ASITA NTB Serukan Dampak Efisiensi Anggaran

Geumerie Ayu • Rabu, 30 April 2025 | 21:30 WIB

BELI TIKET: Sejumlah wisatawan mancanegara tengah membeli tiket penyeberangan fast boat untuk meninggalkan Gili Air, belum lama ini.
BELI TIKET: Sejumlah wisatawan mancanegara tengah membeli tiket penyeberangan fast boat untuk meninggalkan Gili Air, belum lama ini.
LombokPost-Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) NTB menyoroti dampak kebijakan efisiensi anggaran saat ini.

Tidak hanya hotel penyelenggara MICE, tapi juga pelaku UMKM dan usaha informal lainnya ikut terdampak. “Dampaknya ke mana-mana,” keluh Ketua ASITA NTB Dewantoro Umbu Joka, kemarin (28/4).

Dirinya mengajak semua stakeholder terkait untuk bersama-sama menyuarakan dampak negative kebijakan tersebut ke pusat.

NTB kehilangan banyak kunjungan wisatawan sebagai dampak efisiensi anggaran. “Kunjungan wisatawan sekarang baru 10 persen dari tahun lalu, okupansi hotel saja di bawah 50 persen,” bebernya.

Pada akhirnya, dampaknya meluas tidak hanya di satu sektor usaha saja. Selain hotel, pelaku UMKM hingga usaha informal lainnya ikut terimbas.

Seperti usaha penjualan souvenir, makanan dan minuman, bahkan jasa transportasi juga terdampak langsung dari penurunan kunjungan wisatawan.

Sebagai contoh, satu peserta kunjungan kerja maupun MICE membelanjakan setidaknya Rp 5 juta selama di NTB.

Sementara peserta dalam satu event MICE saja diperkirakan mulai dari puluhan hingga ratusan orang.

Pihaknya memperkirakan setidaknya ada Rp 1-2 triliun perputaran uang di NTB per tahun, yang berpotensi hilang akibat kebijakan efisiensi anggaran tersebut.

Sebab itu, pihaknya mendorong stakeholder terkait untuk menyuarakan bersama terkait dampak tersebut. “Kita musti kompak teriaknya ke pusat,” tegasnya.

Polemik kebijakan efisiensi anggaran ini dinilainya perlu mendapatkan perhatian serius, terutama dari pemerintah. Sebab jika dibiarkan, dampaknya akan meluas pada bertambahnya angka pengangguran.

Banyak hotel-hotel yang melakukan pengurangan karyawan. Paling ekstrem, akan ada banyak usaha informal yang gulung tikar lantaran minimnya pendapatan.

“Kalau terus menerus efisiensi, hotel-hotel yang biasa tempat MICE arah-arahnya gitu (PHK, Red), kecuali hotel-hotel yang memang khusus untuk jalan-jalan, aman,” jelasnya.

Sebelumnya, Ketua Astindo NTB Sahlan M Saleh mengatakan, di tengah kondisi efisiensi anggaran saat ini, tidak ada cara lain untuk meningkatkan kunjungan tamu ke NTB.

Untuk bisa membantu keterisian kamar di hotel-hotel, kunjungan tamu leisure, sport tourism dan adventure harus ditingkatkan.

“Kalau kita mengharapkan MICE sementara ini, kita terbatas. Karena yang ada pun MICE yang skala kecil dan dari korporasi,” ujarnya. (fer/r6)

Editor : Prihadi Zoldic
#UMKM #wisatawan #EFISIENSI ANGGARAN #Anggaran #Asita NTB #pelaku usaha #okupansi hotel #Hotel #menyuarakan #kebijakan #informal