Sementara pengangguran terbuka merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tenaga kerja yang tidak diserap pasar kerja.
Di NTB, tingkat pengangguran terbukanya pada tahun ini tercatat sebesar 102,63 ribu orang atau 3,22 persen dari angkatan kerja, yang menandakan dalam 100 orang angkatan kerja terdapat 3 orang yang menganggur.
Tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2025 mengalami penurunan sebesar 0,08 persen dibandingkan Februari 2024 lalu, namun dari segi jumlah, pengangguran terbuka naik sebanyak 2,48 ribu orang.
“Kenapa jumlah pengangguran terbuka bisa naik, karena jumlah angkatan usia kerja juga naik,” ujar Kepala BPS NTB Wahyudin.
Dari angka tersebut, ternyata jumlah pengangguran pria jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan pengangguran perempuan dengan lokasi lebih banyak di perkotaan.
Wahyudin mengatakan, jumlah pengangguran terbuka pria sebesar 3,37 persen, lebih tinggi dibandingkan pengangguran terbuka perempuan yang sebesar 3,02 persen.
“Kita bisa lihat dari sisi jumlah Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan lebih tinggi tapi pengangguran terbukanya rendah,” jelasnya.
Selama setahun terakhir sejak Februari 2024 hingga Februari 2025, TPAK pria naik sebesar 1,77 persen, sedangkan TPAK perempuan naik sebesar 3,25 persen.
Hal ini menunjukkan TPAK perempuan lebih tinggi dibandingkan pria.
Lebih lanjut, jika dibandingkan dengan data Februari 2024, pengangguran terbuka pria menurun sebesar 0,46 persen poin sedangkan pengangguran terbuka perempuan meningkat sebesar 0,41 persen poin.
Pengangguran terbuka ini ternyata lebih tinggi di perkotaan dibandingkan di pedesaan.
Tingkat pengangguran terbuka di perkotaan sebesar 4,10 persen, sedangkan di pedesaan sebesar 2,21 persen.
Meski begitu, jika dibandingkan dengan Februari 2024, pengengguran terbuka di perkotaan turun sebesar 0,47 persen, sedangkan di perdesaan naik sebesar 0,27 persen. (Geumie)
Editor : Kimda Farida