Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Padi Amfibi Gamagora 7 Dikembangkan di 250 Hektare Lahan di NTB

Geumerie Ayu • Senin, 7 Juli 2025 | 10:30 WIB
Padi amfibi gamagora 7 dikembangkan pada 250 hektare lahan di ntb
Padi amfibi gamagora 7 dikembangkan pada 250 hektare lahan di ntb

LombokPost – Sebagai upaya pengendalian inflasi pangan, Bank Indonesia (BI) mengembangkan varietas unggul Gamagora 7.

Varietas yang dikenal sebagai padi amfibi ini dikembangkan di lahan seluas 250 hektare

Selain mengendalikan inflasi, varietas ini juga merupakan sebuah langkah strategis untuk mendongkrak produksi beras di NTB.

Sebab padi varietas ini dapat beradaptasi di berbagai kondisi cuaca.

Menurut Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) NTB Andhi Wahyu Riyadno, pengembangan padi Gamagora 7 ini merupakan intervensi vital di sektor hulu.

Hal itu bertujuan untuk menjaga stabilitas harga pangan.

Varietas ini bukan sembarang padi, benihnya dikembangkan bersama peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan punya keunggulan luar biasa.

“Gamagora 7 ini dikenal sebagai varietas amfibi karena mampu tumbuh baik di lahan kering maupun basah,” jelas Andhi.

Padi amfibi gamagora 7 dikembangkan pada 250 hektare lahan di ntb
Padi amfibi gamagora 7 dikembangkan pada 250 hektare lahan di ntb

Keunggulan ini sangat relevan untuk kondisi lahan di NTB.

Menariknya lagi, dari uji coba demplot di Lombok Tengah, produktivitasnya mencapai 10 ton per hektare.

“Dua kali lipat dari rata-rata nasional. Ini potensi yang luar biasa untuk ketahanan pangan NTB,” sambungnya.

Pada tahun 2025 ini, BI NTB menargetkan pengembangan demplot seluas 250 hektare yang akan tersebar di 10 kabupaten/kota di NTB.

Benihnya disalurkan secara gratis kepada para petani dan juga untuk pondok pesantren yang punya unit usaha pertanian.

“Kami tidak hanya menyasar kelompok tani, tetapi juga pesantren. Harapannya, mereka bisa mandiri secara pangan,” tambah Andhi.

Program ini juga menjadi jawaban atas keluhan klasik petani terkait tingginya harga pupuk dan pengurangan subsidi.

Sebab itu, pola tanam yang dikembangkan bersifat semi organik dan mengedepankan penggunaan pupuk organik.

Tujuannya menjaga kesuburan tanah sekaligus menekan biaya produksi petani.

“Ini adalah model pertanian berkelanjutan. Hasil panennya bisa dijadikan benih unggul untuk musim tanam berikutnya, dan kami akan terus melakukan pengawasan kualitas bersama UGM,” tegas Andhi.

Andhi menegaskan beras selama ini menjadi salah satu penyumbang utama inflasi di NTB.

Terutama pada saat pasokan dan distribusi terganggu.

Ini tentu saja ironis, mengingat NTB dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional.

Melalui upaya memperkuat produksi di tingkat petani dengan Gamagora 7, BI NTB berharap dapat menstabilkan pasokan dan menekan gejolak harga.

“NTB ini lumbung padi nasional, tapi ironisnya, beras juga jadi sumber inflasi,” terangnya.

Inisiatif ini menunjukkan komitmen serius menjaga stabilitas ekonomi daerah melalui pendekatan yang inovatif dan berpihak pada petani.

“Kami sedang menghitung sejauh mana dampak demplot 250 hektare ini terhadap pengendalian inflasi daerah. Yang pasti, ini langkah konkret dan berbasis data,” tandasnya. (fer/r6)

 

 

Editor : Jelo Sangaji
#bi ntb #Kembangkan #Padi #amfibi #Gamagora 7