Melalui ajang Womenpreneur Competition 2025, LWC sukses menjaring ratusan Generasi Z (Gen Z) NTB berbakat dan menginspirasi.
Bahkan, beberapa di antaranya sudah merupakan pengusaha beromzet fantastis dan sukses melakukan ekspansi.
Founder LWC Indah Purwanti menjelaskan, kompetisi ini merupakan program baru.
Khusus dirancang untuk melahirkan wirausaha perempuan muda.
Bukan hanya kreatif, tetapi juga diharapkan berani membangun bisnis selagi masih duduk di bangku kuliah.
“Kami ingin memperkenalkan kepada mahasiswi bahwa menjadi entrepreneur itu keren. Bukan sekadar bisnis, tetapi juga tentang visi, peran sosial, dan kemandirian ekonomi,” jelasnya.
“Ini juga bentuk kita mendukung pengurangan pengangguran dan kemiskinan di NTB,” ujar Indah.
Ratusan pengusaha muda yang berkompetisi ini diseleksi ketat.
Setelah melalui tahap kurasi dan business coaching intensif, terpilihlah Top 20.
Usai tahap deep interview dan mentoring, menyisakan top 10 finalis yang unjuk gigi di babak final.
Indah menerangkan, LWC juga memiliki misi penting untuk membangun jejaring yang kuat.
Para finalis diperkenalkan ke dalam lingkaran komunitas LWC yang beranggotakan para pengusaha perempuan di NTB.
“Kami ingin para mahasiswi ini punya role model nyata,” katanya.
Bahkan LWC juga secara resmi melamar finalis untuk bergabung sebagai pengurus muda komunitas.
Ini adalah langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan dan pertumbuhan para pengusaha muda tersebut.
Ditegaskannya, ajang ini bukan hanya kompetitif, tetapi juga sangat inspiratif.
Para pemenang datang dari latar belakang usaha yang beragam.
Itu menunjukkan potensi luar biasa dari Gen Z NTB.
Di antaranya seperti Dyana Catering (juara 1), lewat promosi masif via Facebook dan strategi paket acara, omzet usahanya kini telah mencapai Rp 80 juta.
Livin (juara 2), bisnis fesyen ramah lingkungan yang menyasar pasar ekspatriat dan wisatawan asing.
“Produk linen wear-nya telah memiliki butik di Kuta Mandalika dan sedang ekspansi ke Gili Trawangan,” bebernya.
Santara Food (juara 3), bisnis produksi Sate Tanjung dalam kemasan kekinian.
Produk kulinernya kini telah tersedia di berbagai gerai oleh-oleh di Lombok. Membuktikan kemampuan adaptasi dengan selera pasar modern.
Uta Londe Mbojo (juara 4), usaha pengolahan bandeng dari Bima, yang memiliki potensi besar.
Indah mengungkapkan kekagumannya terhadap performa peserta.
Ada yang omzetnya Rp 60 juta, bahkan Rp 80 juta.
“Ini menunjukkan potensi luar biasa anak-anak muda NTB. Banyak dari mereka masih semester dua atau empat, tapi sudah punya bisnis sendiri,” tandasnya. (fer/r6)
Editor : Kimda Farida