Kebijakan ini diprediksi akan mengubah peta persaingan di pasar elektronik konsumen, terutama untuk produk premium.
Secara sederhana, kesepakatan itu menetapkan tarif masuk nol persen untuk produk asal Amerika yang masuk Indonesia.
Sedangkan tarif untuk produk Indonesia yang masuk ke Amerika sebesar 19 persen.
Dampaknya terhadap konsumen produk Amerika diprediksi akan langsung terasa.
Misalnya pada produk ponsel asal AS, iPhone.
Harga produk merek ini dikenal tinggi karena bea masuk dan biaya distribusi yang signifikan.
Namun, dengan adanya insentif bea masuk nol persen ini, iPhone produksi California berpotensi besar masuk pasar Indonesia dengan harga yang jauh lebih kompetitif dalam waktu dekat.
Wakil Ketua XII Bidang Investasi BPD HIPMI NTB Ricky Hartono menyambut positif kebijakan ini.
"Ini kabar baik untuk sektor elektronik, khususnya produk-produk premium seperti iPhone," kata Ricky.
Sebagai contoh, iPhone iPhone 15 mulai dari Rp 11,5 juta.
Ricky memperkirakan, jika iPhone yang berasal dari Amerika masuk bebas biaya, harganya bisa terkoreksi menjadi sekitar Rp 10 juta, bahkan lebih rendah lagi.
Penurunan harga ini tentu menjadi peluang emas, tidak hanya bagi distributor dan retailer.
"Kalau harga iPhone bisa turun karena bebas bea masuk, bukan hanya pengusaha yang diuntungkan, tapi konsumen juga akan mendapatkan akses ke produk premium dengan harga lebih rasional," tambah Ricky.
Meski demikian, kebijakan ini juga menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap industri elektronik lokal dan regional.
Produk-produk elektronik buatan Asia, terutama dari China, Korea Selatan, dan Jepang, yang selama ini mendominasi pasar kelas menengah, berpotensi tergeser.
“Karena daya saing harga iPhone yang meningkat,” sambungnya.
Namun sebagai pengusaha, Ricky tetap mengingatkan keberhasilan kebijakan ini sangat bergantung pada implementasi teknis di lapangan.
Ada beberapa hal yan perlu menjadi perhatian.
Di antaranya, kejelasan aturan pelaksanaan, kecepatan distribusi dari jalur bea cukai, serta kepastian bahwa produk yang masuk benar-benar berasal dari Amerika Serikat.
Bukan hanya rebranding dari pabrik di China.
"Sekarang kita lihat dulu bagaimana realisasinya. Tapi secara prinsip, kebijakan nol persen tarif ini adalah peluang besar bagi pengusaha dalam negeri untuk melakukan penetrasi pasar yang lebih dalam, terutama untuk produk-produk yang memang high demand seperti iPhone,” tandasnya.
Editor : Siti Aeny Maryam