Salah satunya adalah kopi Lasingan, kopi lokal yang namanya diambil dari bahasa Sasak, bahasa asli masyarakat Lombok.
Iskandar Zulqarnain adalah pencetus kopi Lasingan.
Brand Lasingan bukanlah sekadar nama.
Dalam bahasa Sasak, Lasingan bermakna ‘makanya’ atau sebuah ungkapan dipakai untuk menyalahkan seseorang dengan nada bercanda.
“Nama ini saya pilih karena unik dan lekat dengan budaya lokal,” ujarnya.
Dijelaskannya, Lombok memiliki banyak jenis kopi. Seperti Liberika, Excelsa, Robusta, dan Arabika.
Namun tidak semua jenis kopi ini gampang ditemukan. Kopi Liberika dan Excelsa sangat langka. Hanya bisa dijumpai di kawasan Sembalun, itupun kebunnya susah dicari.
Berbeda dengan Robusta, lebih banyak tumbuh di berbagai wilayah Lombok.
Menariknya, meskipun sama-sama jenis Robusta, kopi dari satu desa dan desa lainnya bisa punya rasa yang berbeda.
Contohnya, rasa Robusta dari Desa Sajang Lombok Timur berbeda dengan dari Desan Santong Lombok Utara.
Begitu juga Robusta dari Setiling Lombok Tengah, punya karakter rasa yang berbeda dengan Robusta dari Desa Perian Lombok Timur.
“Inilah yang membuat kopi Lombok semakin menarik, setiap daerah punya cita rasa khas,” sambungnya.
Sementara Arabika hanya tumbuh di dataran tinggi Sembalun. Antara ketinggian 1.000 – 1.300 mdpl.
Kopi Arabika Sembalun dikenal punya rasa yang unik. Dipercaya karena pengaruh tanah vulkanik dari Gunung Rinjani.
Di Lasingan, proses panen kopi dilakukan dengan sangat hati-hati. Hanya biji kopi yang sudah merah yang dipetik. Ini penting untuk menjaga kualitas.
Kopi Lasingan berkomitmen terhadap standarisasi mutu melalaui penerapan SOP (Standard Operating Procedure) di tiap tahapan.
Mulai dari pasca panen hingga pengemasan akhir.
Proses ini mencakup cara pemetikan biji kopi, pengolahan green beans, proses roasting, hingga pengemasan produk siap konsumsi seperti kopi bubuk.
Dengan SOP yang jelas, kualitas kopi dapat lebih terjaga dan konsisten.
“Sehingga cita rasa khas dari setiap wilayah di Lombok tetap bisa dinikmati dalam setiap cangkir,” jelasnya.
Lasingan juga mengedepankan kekuatan lokal sebagai nilai jual utama.
Meski banyak jenis kopi beredar di pasaran, wisatawan dan penikmat kopi cenderung mencari kopi yang benar-benar berasal dari Lombok.
Inilah yang membuat kopi Lasingan unggul.
Lasingan menawarkan keaslian rasa lokal.
Mencerminkan karakter unik tiap daerah seperti Sajang, Sembalun, hingga Setiling.
Menurut Iskandar, meskipun prosesnya menantang, seluruhnya terasa menarik.
“Karena dikerjakan dengan passion terhadap dunia kopi,” katanya.
Setelah panen, kopi Lasingan diproses dengan berbagai metode, tergantung permintaan pembeli.
Di antaranya, seperti full washed, semi washed, honey, winey, dan natural.
Produk yang disediakan Lasingan mulai dari green beans (biji kopi mentah).
Kemudian roasted beans (biji kopi sangrai), grounded coffee (kopi bubuk), drip coffee (kopi siap seduh dalam kemasan praktis), dan cold brew (kopi seduh dingin siap minum).
Beberapa di antaranya bahkan memiliki kualitas fine robusta dan specialty arabica.
Dua jenis kopi dengan nilai tinggi di dunia perkopian.
Kata Iskandar, kopi Lasingan berdiri tahun 2018.
Awalnya hanya sebagai reseller produk kopi dari merek lain.
Tapi karena dipercaya petani, Iskandar mulai membeli langsung biji kopi dari petani, dan kini memproduksi sendiri mulai dari proses pasca panen.
Lasingan juga aktif membina petani-petani kopi.
Termasuk ikut membentuk koperasi kopi pertama di Lombok bernama Koperasi Tani Bumi Lestari di Desa Sajang, Kecamatan Sembalun.
Editor : Kimda Farida