LombokPost - Warisan keluarga Djarum ternyata sudah dibahas sejak usia belia. Chief Operating Officer (COO) PT Djarum, Victor Rachmat Hartono, mengungkapkan dirinya telah diajak orang tua duduk bersama membicarakan pembagian warisan keluarga Djarum sejak berusia 12 tahun.
Kala itu, Victor dikenalkan dengan notaris keluarga yang menyimpan surat warisan. Transparansi ini dilakukan agar tidak ada konflik yang muncul di kemudian hari.
“Sejak kecil saya sudah diajak bicara soal warisan, dikenalkan dengan notaris keluarga,” kata Victor.
Menurut Victor, pembagian warisan keluarga Djarum merujuk pada hukum waris Indonesia, baik hukum perdata, hukum Islam, maupun hukum adat, sesuai mekanisme legal yang berlaku.
Hal ini sekaligus menepis anggapan bahwa keluarga konglomerat kerap berkonflik karena harta.
Lebih jauh, Victor menyoroti ancaman yang bisa merusak keharmonisan bisnis keluarga, yakni faktor pihak ketiga yang ia sebut sebagai “ani-ani”.
“Kalau tidak diantisipasi, ani-ani bisa merusak bisnis keluarga. Itu sebabnya sejak dini harus ada keterbukaan soal warisan,” ujarnya dalam forum Meet The Leaders di Universitas Paramadina.
Victor menekankan, warisan keluarga Djarum bukan hanya soal harta, tetapi juga nilai, disiplin, dan tanggung jawab.
Ia menyinggung perjalanan bisnis keluarga yang dimulai dari usaha minyak kacang tanah, kemudian bertransformasi ke industri kretek hingga menjadi Djarum Group seperti sekarang.
“Warisan terbesar bukan hanya aset, tetapi juga nilai yang diturunkan dari generasi ke generasi,” jelasnya.
Keterbukaan dalam pembahasan pembagian warisan keluarga Djarum diakui sebagai salah satu kunci menghindari konflik internal.
Dengan melibatkan notaris, mematuhi hukum waris yang berlaku, dan menjaga komunikasi antaranggota keluarga, potensi sengketa bisa ditekan sejak awal.
Pada akhirnya, pesan Victor Hartono sederhana namun dalam: warisan keluarga Djarum harus dipandang sebagai amanah, bukan sekadar harta yang bisa memicu perpecahan.
Justru, dengan pengelolaan yang benar, warisan bisa memperkuat bisnis lintas generasi. (***)
Editor : Alfian Yusni