Proyek senilai USD 3,3 miliar atau sekitar Rp 54,6 triliun ini akan memanfaatkan lahan bekas pabrik layar LCD Foxconn di Wisconsin, AS, yang mangkrak sejak 2017.
Keputusan ini menjadi babak baru bagi kawasan yang sebelumnya dianggap sebagai simbol kegagalan industri.
Brad Smith, Wakil Ketua dan Presiden Microsoft, menegaskan proyek ini adalah wujud dari visi jangka panjang perusahaan.
“Proyek ini bukan hanya investasi teknologi, melainkan juga bukti visi jangka panjang kami,” ujar Brad Smith.
Baca Juga: Microsoft PHK Besar-besaran, 9.000 Karyawan Terdampak, AI Jadi Pengganti Utama
Komitmen pada Keberlanjutan Lingkungan
Menanggapi kekhawatiran publik terkait konsumsi energi yang besar dari pusat data, Smith menjelaskan bahwa Microsoft akan menggunakan sistem pendingin tertutup yang ramah lingkungan.
Sistem ini dirancang untuk hanya diisi air sekali dan tidak akan mengalami penguapan.
“Fasilitas ini dirancang tidak untuk menguras sumber daya alam seperti Danau Michigan, tetapi menjadikannya contoh pusat data AI yang berkelanjutan,” tegas Smith.
Langkah ini memperkuat posisi Microsoft dalam persaingan infrastruktur AI melawan raksasa teknologi lain seperti Google, Amazon, dan Meta.
Para analis menilai, proyek ini tidak hanya menegaskan dominasi Microsoft di bidang AI, tetapi juga menunjukkan strategi jangka panjang perusahaan yang mengintegrasikan kekuatan komputasi dengan keberlanjutan lingkungan.
Dari kawasan yang pernah dijuluki boondoggle—proyek gagal dan boros anggaran—Microsoft kini berupaya mengembalikan Wisconsin ke peta inovasi global.
Dunia menantikan apakah CEO Microsoft Satya Nadella dan Brad Smith akan berhasil mengubah narasi kegagalan tersebut menjadi kisah sukses teknologi yang ramah lingkungan.
Editor : Redaksi Lombok Post