Salah satu upaya dengan meningkatkan potensi dan mengurus Indikasi Geografis (IG) bagi produk kerajinan khas NTB.
Sinta membeberkan, dari sekitar 60 kerajinan yang telah diajukan, baru dua yang berhasil memperoleh sertifikasi IG, yakni Gerabah Lombok Barat dan Tenun Dompu.
Dijelaskannya, IG merupakan tingkatan tertinggi yang dapat dicapai oleh sebuah kerajinan. Ketika sebuah kerajinan masuk dalam daftar IG, maka nilai ekonominya akan naik.
“Kemudahan ekspor akan lebih baik, kualitasnya diakui secara internasional, dan memiliki potensi untuk go-dunia,” ujarnya.
Sinta mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Termasuk mengkaji penyebab belum lolosnya kerajinan dari Lombok Timur dalam mendapatkan sertifikasi IG.
Sebab itu, dirinya mengajak semua pihak terkait berkolaborasi menyelesaikan persoalan tersebut.
“Saya masih mempelajari mengapa kerajinan di Lombok Timur masih belum lolos, dan tentunya harus kita tindak lanjuti bersama,” sambungnya.
Tugas utama Dekranasda adalah memajukan kerajinan lokal dengan merangkul semua pegiat kerajinan, apa pun bentuknya.
Selain itu juga mendorong ekspor produk-produk yang belum banyak dikenal.
“Seluruh pengurus dekranasda kabupaten/kota harus lebih banyak lagi turun ke masyarakat. Agar mengetahui lebih banyak permasalahan yang ada di perajin,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan sejumlah tantangan serius yang dihadapi, seperti salah satunya, berkurangnya jumlah perajin dan penenun aktif.
Banyak perajin yang kini beralih ke profesi lainnya, sehingga hanya menenun di sela-sela waktu.
“Ini menyebabkan ketidakmampuan menyelesaikan pesanan tepat waktu,” katanya.
Sebab itu, Sinta menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, dekranasda, dan para perajin untuk mencari solusi inovatif.
Hal ini guna menjaga kelangsungan dan meningkatkan daya saing industri kerajinan NTB di kancah global.
“Sehingga produk kerajinan bisa go global,” tandasnya.
Editor : Siti Aeny Maryam