Belakangan, kain tenun Bayan ini sering diihadirkan dalam event nasional, kegiatan bazar, hingga dijadikan suvenir.
Para penenun kain tenun Bayan berasal dari Bayan Timur, Bayan Barat, Karang Salah, Karang Bajo dan sekitarnya.
Penenun kain tenun Bayan ini terhimpun dalam komunitas perajin tenun.
Kain tenun Bayan yang dihasilkan pun beragam, mulai dari motif londong abang, lipak (kemben), poleng, jong, bebet anteng, rejasa, kombong.
Penenun Bayan Marni menceritakan, pada tahun 2019, UNESCO hadir membangkitkan kembali kehidupan para penenun, pascagempa 2018.
Ketika itu, UNESCO membantu tiga kelompok perajin tenun termasuk Jajak Bayan, Kelompok Petung Bayan, dan Kelompok Nina Pacu di Pringgasela Utara Lombok Timur.
UNESCO melatih para penenun dengan keterampilan mendesain motif, di samping memberikan bantuan paket alat tenun gedogan, alat pintal benang, dan alat tenun setup jajak.
Pascagempa bumi dan pandemi Virus Corona mereda, pasar tenun Bayan mulai pulih perlahan.
Proses pembuatan tenun Bayan biasanya membutuhkan waktu 7-30 hari, harganya berkisar ratusan ribu Rupiah.
"Proses pembuatannya itu pertama digulung dengan alat ondar-andir, lalu dimasukkan ke kliotan untuk membentuk motif, baru setelah itu dipasangkan ke jajaknya kemudian baru ditenun," ceritanya.
Marni, lantas menyebut beberapa upaya promosi tenun Bayan telah dilakukan, termasuk pelatihan oleh UNESCO 2019 lalu.
Upaya promosi lainnya, dilakukan lewat pemakaian kain tenun Bayan oleh pejabat pemerintah daerah Lombok Utara.
Soal pemasarannya, para penenun biasanya langsung menjual kain tenun Bayan ke konsumen, baik warga lokal atau turis yang sedang berkunjung.
"Keuntungan kita bisa dipastikan. Yang penting kita harap ini bisa berkembang sampai ke mancanegara," tandas Marni.
Pemuka Adat Bayan Raden Asjianom mengatakan, tenun Bayan ternyata bukan sekadar kerajinan tangan biasa.
Namun memiliki makna sakral, sehingga penggunaan tenun Bayan pun pada momen-momen penting.
Kain tenunan adat tersebut digunakan pada waktu upacara ritual adat.
Tidak semuanya bisa digunakan sembarang waktu dan tempat.
Biasanya dikenakan pada acara peringatan maulid, ngaji makam, ngaturang yang dilaksanakan setahun sekali pascapanen serta acara-acara penting lainnya.
Editor : Jelo Sangaji