Perempuan berhijab ini sukses meraup omzet hingga jutaan Rupiah.
Bermula dari melimpahnya tanaman kelor di pekarangan rumahnya, Rahmawati mencoba membuat ragam makanan basah berbahan daun kelor.
Kendala utamanya adalah produk tersebut tidak bisa bertahan lama, sehingga dinilai kurang menjual.
Setelah cukup lama memutar otak, akhirnya ia berkreasi membuat makanan kering berupa stik kelor.
Inovasi ini berhasil karena camilan kering tersebut bisa bertahan lama dan kini mulai dikenal luas.
"Awalnya bikin makanan basah, tapi tidak bertahan lama. Setelah mencoba stik, Alhamdulillah diminati banyak orang," ujar Rahmawati, pelaku usaha stik kelor.
Setiap hari, Rahmawati dibantu oleh lima orang warga sekitar memproduksi rata-rata lima kilogram camilan dari daun kelor.
Camilan ini dipasarkan ke sejumlah rumah makan, hingga retail modern dan pasar lokal.
Tidak hanya di Lombok, camilan Stik Kelor milik Rahmawati juga dikirim ke luar pulau. Stik kelor miliknya sudah dikirim ke Sumbawa dan Bali.
Dari hasil olahan daun kelor ini, Rahmawati dan kelompoknya mampu meraup omzet hingga Rp 5 juta per bulannya.
Selain dijual ke luar Lombok, camilan daun kelor ini menarik perhatian pemerintah.
Stik kelor Rahmawati ini juga kerap dijadikan sebagai Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk balita.
“Kandungan nutrisinya yang kaya diyakini mampu membantu mencegah dan mengatasi masalah stunting di tengah masyarakat,” tandasnya.
Editor : Siti Aeny Maryam