Kendati demikian, pertumbuhan ekonomi diyakini masih mampu bertahan di level psikologis di atas 5 persen.
Chief Economist Citi Indonesia, Helmi Arman, menjelaskan bahwa tren perlambatan ini dipicu oleh pelemahan permintaan domestik serta menurunnya indeks kepercayaan konsumen pada periode September 2025.
”Kami masih expect di atas 5 (persen), tapi di atas 5 marginal sedikit,” ujar Helmi di Jakarta, Selasa (28/10/2025).
Meskipun aktivitas konsumsi masyarakat cenderung melandai secara kuartalan, Helmi mencatat bahwa kinerja ekspor tetap menunjukkan performa yang positif. Sektor ini menjadi penopang utama yang menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi di tengah fluktuasi domestik.
Memasuki kuartal IV-2025, Citi Indonesia memproyeksikan adanya pemulihan aktivitas ekonomi. Hal ini didorong oleh siklus peningkatan belanja pemerintah di penghujung tahun serta penyaluran Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebagai stimulus fiskal.
”Karena memang kuartal IV-2025 musimnya belanja pemerintah lebih kencang dibandingkan kuartal ketiga,” ujarnya.
Baca Juga: UMP NTB 2026 Hanya Naik Rp 70.930, Imbas Pertumbuhan Ekonomi Tak Menentu
Untuk keseluruhan tahun 2025, Citi Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran 5 persen. Sementara itu, untuk tahun 2026, proyeksi menunjukkan arah yang lebih positif dengan estimasi mencapai 5,2 persen.
”Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan pulih tahun depan, mungkin dari sekitar 5 persen tahun ini menjadi 5,2 persen atau mungkin sedikit lebih tinggi tahun depan,” ungkap Helmi.
Proyeksi ini senada dengan target Bank Indonesia (BI) yang menetapkan kisaran pertumbuhan ekonomi 2025 pada rentang 4,6 persen hingga 5,4 persen.
Di sisi lain, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) turut merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan Indonesia menjadi 4,9 persen dari estimasi sebelumnya 4,7 persen.
Dalam laporan Economic Outlook, OECD menilai bahwa pelonggaran kebijakan moneter oleh Bank Indonesia serta akselerasi investasi publik akan menjadi motor penggerak utama.
”Pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut dan investasi publik yang kuat diharapkan dapat mendukung perekonomian Indonesia, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 4,9 persen diproyeksikan untuk tahun 2025 dan 2026,” tulis laporan resmi OECD tersebut.(*)
Editor : Redaksi Lombok Post