Gili Hotel Association (GHA) memproyeksikan tingkat hunian kamar hotel mampu menyentuh angka 70 persen, bahkan lebih.
Ketua GHA Lalu Kusnawan mengatakan, kunjungan sempat melandai pada awal Desember. Namun momentum libur panjang akhir tahun menjadi titik balik. Puncak kunjungan wisatawan diperkirakan akan hingga 31 Desember 2025.
Untuk menjaga stabilitas tingkat hunian, para pelaku usaha perhotelan telah menyiapkan berbagai strategi kreatif.
Fokus utama adalah meningkatkan length of stay atau durasi menginap wisatawan melalui diversifikasi layanan.
“Kami memproyeksikan okupansi tetap stabil di angka 60-70 persen. Untuk menarik minat tamu, pengusaha hotel telah menyiapkan paket makan malam khusus, acara hiburan tematik, musik, hingga pesta malam pergantian tahun,” jelas Kusnawan.
Dari sisi pasar, wisatawan domestik diperkirakan masih mendominasi kunjungan. Untuk turis mancanegara, Australia, tetap jadi salah satu yang tertinggi.
“Turis dari Australia kerap menjadikan Tiga Gili sebagai rumah kedua mereka untuk merayakan akhir tahun,” tambahnya.
Dinas Pariwisata (Dispar) Lombok Utara mengalihkan pusat kemeriahan event penutup tahun ke Kecamatan Kayangan. Hal itu agar terjadi distribusi wisatawan dan menggerakkan ekonomi di luar kawasan Gili Tramena.
Kepala Dinas Pariwisata Lombok Utara Denda Dewi Tresni Budi Astuti menjelaskan pemilihan Kayangan dilakukan berdasarkan konsep penyelenggaraan event yang bergilir.
Setelah sebelumnya sukses digelar di Kecamatan Pemenang dan Tanjung, kini giliran Kayangan yang unjuk gigi dengan potensi alam dan budayanya.
“Event ini dirancang untuk mempromosikan potensi lokal sekaligus memberi ruang bagi UMKM dan pelaku wisata untuk menampilkan kreativitas mereka,” jelas Denda Dewi.
Rangkaian acara di Kayangan dipastikan akan semarak dengan berbagai kegiatan. Di antaranya, pertunjukan seni tradisional, festival musik, bazar produk lokal UMKM, atraksi wisata berbasis budaya.
Editor : Jelo Sangaji