Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Penyaluran Kredit di NTB Tumbuh 26,56 Persen

Geumerie Ayu • Kamis, 1 Januari 2026 | 16:03 WIB

Kepala BI NTB, Hario K Pamungkas
Kepala BI NTB, Hario K Pamungkas
LombokPost – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTB Hario K Pamungkas menjelaskan, penyaluran kredit di Bumi Gora tumbuh pesat. Mencapai 26,56 persen (yoy) per Oktober 2025, melampaui capaian bulan sebelumnya.

Laju kredit yang ekspansif ini tidak lepas dari pelonggaran kebijakan moneter nasional. Kebijakan BI Rate yang dipangkas secara bertahap dari 5,75 persen di awal tahun menjadi 4,75 persen pada September dan Oktober 2025 menjadi pemantik utama.

Hario menjelaskan, perbankan di NTB merespons cepat kebijakan tersebut dengan menurunkan suku bunga kredit hingga menyentuh level 9,47 persen pada Oktober 2025.

Di sisi lain, suku bunga Dana Pihak Ketiga (DPK) tetap stabil di kisaran 2,00 persen. Menjaga keseimbangan margin perbankan.

"Pertumbuhan kredit berdasarkan lokasi proyek ini didorong oleh prospek kredit produktif yang tetap baik di wilayah NTB," ujar Hario.

Secara nominal, volume kredit di NTB konsisten menanjak hingga menembus angka di atas Rp 110 triliun.

Kesehatan sektor keuangan juga tercermin dari penghimpunan dana masyarakat. Per Oktober 2025, total DPK di NTB mencapai titik tertinggi di angka Rp 50 triliun, dengan akselerasi pertumbuhan 7,58 persen (yoy).

Kenaikan signifikan ini dipicu oleh beberapa faktor strategis. Di antaranya, penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang memperkuat likuiditas perbankan.

Kemudian penurunan suku bunga kredit yang memicu gairah ekonomi masyarakat untuk menempatkan dana mereka di bank.

Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat konsisten berada di atas 100 persen, menandakan fungsi intermediasi perbankan berjalan sangat optimal,” sambungnya.

Meski secara agregat risiko kredit atau Non-Performing Loan (NPL) total masih aman di level 1,81 persen, BI memberikan catatan khusus pada sektor UMKM dan sektor produktif lainnya.

Penyaluran kredit UMKM memang meningkat secara nominal menjadi Rp 22,53 triliun per Oktober 2025.

Namun, kualitas asetnya menunjukkan tren penurunan yang mengkhawatirkan. Rasio NPL UMKM melonjak tajam dari 2,98 persen di awal tahun 2024 menjadi 6,59 persen pada Oktober 2025.

Beberapa sektor mencatatkan rapor merah dalam hal kredit bermasalah. Di antaranya, sektor konstruksi dengan NPL mencapai 20,45 persen, dan sektor pertanian dengan NPL berada di angka 12,55 persen.

Editor : Kimda Farida
#penyaluran kredit #bi ntb #tumbuh #Bank Indonesia #NTB