Fenomena ini muncul sebagai titik cerah di tengah tren perlambatan penjualan kendaraan konvensional yang masih membayangi pasar otomotif nasional.
Kepala Eksekutif Pengawasan Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, menyatakan bahwa kinerja pembiayaan EV secara konsisten menunjukkan grafik positif.
Berdasarkan data hingga Oktober 2025, total pembiayaan kendaraan listrik oleh industri multifinance mencapai Rp 17,64 triliun, atau tumbuh 2,7 persen secara bulanan (month-to-month/MtM).
“Pertumbuhan ini didorong meningkatnya minat konsumen terhadap kendaraan ramah lingkungan. Prospek pembiayaan mobil listrik pada 2026 diperkirakan tetap positif, seiring tren elektrifikasi, dukungan kebijakan lingkungan, serta makin beragamnya merek kendaraan listrik di pasar,” papar Agusman dalam keterangannya, Sabtu (3/1/2026).
Kontraksi Pembiayaan Kendaraan Konvensional
Berbanding terbalik dengan segmen EV, tekanan berat masih dirasakan oleh sektor pembiayaan kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE).
Per Oktober 2025, pembiayaan untuk mobil baru mengalami kontraksi sebesar 3,64 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), dengan nilai total Rp 230,36 triliun.
Penurunan ini sejalan dengan kondisi pasar otomotif yang belum sepenuhnya pulih. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sebelumnya telah melakukan revisi terhadap target penjualan mobil nasional menjadi 780.000 unit untuk tahun 2025 akibat perlambatan daya beli yang berlanjut hingga akhir tahun.
OJK memproyeksikan bahwa dinamika industri pembiayaan pada tahun ini akan sangat bergantung pada adaptasi perusahaan terhadap perubahan preferensi konsumen. Diversifikasi produk pembiayaan ke arah hijau (green financing) dinilai menjadi kunci keberlanjutan bisnis multifinance.
Agusman menekankan bahwa perusahaan pembiayaan harus jeli melihat peluang di tengah pergeseran teknologi transportasi ini.
“Ke depan, pembiayaan kendaraan akan mengikuti dinamika pasar otomotif, dengan peluang pertumbuhan terbesar berasal dari segmen kendaraan listrik dan inovasi produk pembiayaan,” ujarnya.
Dengan semakin banyaknya merek kendaraan listrik baru yang masuk ke pasar Indonesia serta dukungan insentif dari pemerintah, sektor EV diharapkan mampu mengompensasi penurunan di segmen konvensional dan menjaga stabilitas pertumbuhan piutang pembiayaan nasional.
Editor : Redaksi Lombok Post