LombokPost - Di balik lembutnya tekstur Roti Gembong Mandalika yang kini populer di telinga warga Lombok, tersimpan cerita perjuangan yang tidak sederhana.
Sang empunya, Lalu Mohammad Iqbal, menjadi bukti nyata kerajaan bisnis kuliner tidak melulu lahir dari modal besar, melainkan dari ketelatenan.
Pria yang namanya serupa gubernur NTB itu ada di balik bendera Roti Sukses, Roti Gembong Mandalika, hingga Megumi Roti Jepang.
Dia bercerita, insting bisnisnya justru terasah dari tugas kuliah. Saat banyak mahasiswa hanya berkutat pada teori di dalam kelas, Iqbal sudah berdarah-darah di lapangan.
“Waktu kuliah ada praktik kewirausahaan. Dari situ saya mulai jualan keliling. Saya bawa produk ke sekolah-sekolah dan kantor-kantor. Di sana saya belajar bagaimana menawarkan barang dan membaca respons calon pembeli,” kenangnya.
Pengalaman jualan keliling itu bukan sekadar mencari laba recehan. Bagi Iqbal, jalanan adalah laboratorium bisnisnya.
Ia belajar menghadapi penolakan, mengatur waktu, hingga mengelola keuangan yang sangat sederhana.
"Sedikit-sedikit saya kumpulkan untuk beli alat produksi. Keuntungannya saya putar lagi sampai akhirnya perlengkapan produksi bisa lengkap," bebernya.
Namun, transisi dari pedagang keliling menjadi pemilik usaha dengan sistem menetap bukan tanpa hambatan.
Tantangan terbesar muncul saat skala usaha mulai membesar. Bisnis bukan lagi soal adonan dan panggangan, melainkan soal manajemen sistem.
Ujian sesungguhnya datang saat pandemi, ketika aktivitas masyarakat dibatasi, penjualan roti yang mengandalkan keramaian pun goyah. Di titik ini, mental Iqbal sebagai petarung lapangan diuji.
“Waktu pandemi, target kami sangat sederhana, usaha tetap hidup,” tuturnya.
Strategi efisiensi dan perhitungan matang menjadi kunci Roti Gembong Mandalika tidak karam di tengah badai.
Kini, saat kondisi ekonomi mulai pulih, brand Mandalika dan Megumi mulai menancapkan taji di pasar kuliner NTB.
Menariknya, Iqbal tidak gegabah dalam melakukan ekspansi. Baginya, setiap langkah baru harus memiliki fondasi yang kokoh.
Ia meyakini bahwa bisnis yang langgeng adalah bisnis yang disiapkan untuk menghadapi segala situasi. Bukan sekadar yang mengejar pertumbuhan instan.
Pengalaman masa lalu sebagai penjual keliling telah membentuk mentalnya menjadi lebih berhati-hati namun tetap visioner.
“Pengalaman dari nol itu yang membuat saya percaya, usaha yang kuat bukan yang cepat besar, tapi yang siap menghadapi situasi apa pun,” pungkas Iqbal.
Editor : Prihadi Zoldic