LombokPost - Dunia investasi dikejutkan dengan lonjakan harga emas yang di luar nalar pada pembukaan tahun 2026.
Proyeksi paling agresif dari raksasa perbankan investasi, Goldman Sachs, yang semula memprediksi emas akan mencapai titik tertinggi di akhir tahun, justru menjadi kenyataan jauh lebih awal.
Harga emas dunia kini resmi menyentuh angka US$ 4.900 per ounce.
Jika dikonversikan ke dalam mata uang rupiah, harga logam mulia tersebut kini berada di kisaran estimasi lebih Rp 2.765.000 per gram.
Hal ini terlihat pada harga emas per gram jenis UBS di Pegadaian telah menyentuh Rp 2.792.000,00 pada Selasa tanggal 20 Januari 2026.
Kejutan di Luar Ekspektasi Analis
Sebelumnya, para analis memperkirakan reli emas akan berjalan perlahan sepanjang tahun 2026.
Namun, kombinasi ketidakpastian geopolitik global dan pergeseran kebijakan moneter telah mempercepat aliran modal ke aset safe haven.
Analis memperkirakan angka ini baru akan terlihat di kuartal keempat tahun 2026, namun pasar bergerak jauh lebih agresif.
Emas kini bukan lagi sekadar pelindung nilai, tapi bintang utama dalam portofolio investor tahun ini.
Harga emas menunjukkan penguatan signifikan pada perdagangan hari, Senin, 19 Januari 2026, menyentuh level tertinggi dalam sepekan terakhir. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya permintaan safe-haven asset.
Inilah Faktor Penggerak harga emas:
1.Kebijakan tarif Trump memicu ketegangan perdagangan global, terutama dengan China dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi.
2.Walaupun harga emas sudah mencapai puncak tertingginya, namun harga emas masih memiliki peluang untuk mencapai resisten berikutnya.
Saat ini belum ada tanda-tanda pembalikan arah harga emas.
Sedangkan Perbandingan dengan Pasar Global Harga emas lokal lebih tinggi akibat Premi logam mulia biaya produksi dan distribusi Antam, serta Pajak PPN 11% untuk emas batangan.
Editor : Kimda Farida