Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Keponakan Prabowo Masuk Bursa Deputi Gubernur BI, Rupiah Langsung Tertekan

Marthadi • Selasa, 20 Januari 2026 | 15:00 WIB

 

Thomas Djiwandono. (Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP/Getty Images)
Thomas Djiwandono. (Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP/Getty Images)
LombokPost - Pasar bereaksi cepat. Rupiah melemah dan ditutup mendekati rekor terendah, setelah Presiden Prabowo Subianto mengusulkan keponakannya sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).

Langkah tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap independensi bank sentral. Informasi ini pertama kali dilaporkan Bloomberg.com.

Presiden Prabowo mengajukan Thomas Djiwandono, yang saat ini menjabat Wakil Menteri Keuangan, sebagai salah satu dari tiga kandidat Deputi Gubernur BI. Thomas diusulkan untuk menggantikan Juda Agung yang mengundurkan diri dari jabatannya.

Selain Thomas, dua nama lain yang diajukan adalah Asisten Gubernur BI Dicky Kartikoyono dan Solikin M. Juhro. Ketiganya akan menjalani uji kelayakan dan kepatutan di DPR.

Usai kabar tersebut mencuat, rupiah melemah 0,3 persen dan ditutup di level Rp 16.942 per dolar AS, semakin mendekati titik terlemah yang pernah tercatat pada April lalu. Pada saat bersamaan, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 5 basis poin.

Bloomberg.com menyoroti bahwa perubahan di jajaran pimpinan BI berpotensi memperbesar kekhawatiran pasar soal independensi kebijakan moneter. Isu ini menjadi perhatian global, seiring meningkatnya tekanan politik terhadap bank sentral di berbagai negara.

Tahun lalu, Bank Indonesia diketahui ikut menanggung sebagian biaya utang program prioritas Presiden Prabowo. Selain itu, parlemen juga sempat membahas revisi Undang-Undang BI, termasuk perluasan mandat dan aturan pemberhentian pejabat.

Menanggapi isu tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kekhawatiran pasar lebih didorong oleh spekulasi.

“BI tetap independen. Pemerintah mengurus fiskal, BI mengurus moneter,” ujar Purbaya, dikutip Bloomberg.com.

Ia juga menyebut kemungkinan rotasi jabatan antara BI dan Kementerian Keuangan sebagai hal yang wajar dan tidak mengganggu tata kelola.

Analis Pepperstone, Michael Brown, menilai garis pemisah antara kebijakan fiskal dan moneter berpotensi semakin kabur. Kondisi itu, menurutnya, dapat mengurangi daya tarik rupiah dan surat utang pemerintah Indonesia.

Indonesia, sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, saat ini menaruh harapan besar pada peran BI untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Namun ruang fiskal terbatas, dengan defisit anggaran 2025 tercatat 2,92 persen dari PDB, mendekati batas maksimal 3 persen.

Bank Indonesia dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga dalam waktu dekat. Seluruh analis dalam survei Bloomberg memperkirakan BI akan menahan suku bunga, setelah memangkas total 125 basis poin sepanjang tahun lalu.

Bloomberg.com mencatat, setiap sinyal melemahnya independensi BI berpotensi memicu penilaian ulang risiko terhadap aset-aset Indonesia di mata investor global.

Editor : Marthadi
#Purbaya #Thomas Djiwandono #independensi Bank Indonesia #rupiah melemah #keponakan Prabowo BI