Pertamina menyiapkan tambahan pasokan elpiji 3 kg atau gas melon secara masif.
Sebanyak 105.360 tabung elpiji tambahan disiapkan Pertamina untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh pelosok NTB.
Penambahan ini dilakukan Pertamina melalui mekanisme penyaluran fakultatif.
Guna mengantisipasi lonjakan permintaan yang biasanya terjadi saat hari besar keagamaan dan libur panjang.
Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus Ahad Rahedi menegaskan, Pertamina telah memitigasi potensi kenaikan konsumsi energi.
Ia memastikan seluruh infrastruktur distribusi dalam kondisi prima dan siap melayani masyarakat.
“Produk elpiji menjadi primadona dalam aktivitas masyarakat, terutama saat libur panjang dan menyambut bulan suci Ramadan. Kami telah memitigasi melalui penyaluran fakultatif sebagai tambahan di luar kuota reguler,” bebernya.
Selain elpiji, Pertamina juga melakukan build up stock BBM di SPBU. Pengecekan sarana dan fasilitas (sarfas) dilakukan secara intensif.
Termasuk pengawasan aspek Quantity and Quality (QQ) untuk menjamin masyarakat mendapatkan BBM dengan takaran dan kualitas yang tepat.
Berdasarkan data penyaluran, distribusi tambahan ini difokuskan pada wilayah-wilayah dengan tingkat konsumsi yang tinggi.
Kabupaten Lombok Timur mendapatkan alokasi terbesar sebanyak 22.560 tabung. Hal ini mengingat jumlah penduduk dan aktivitas UMKM yang padat.
Baca Juga: Siap-Siap, PKH-BPNT Tahap 2 dan Bansos Pangan Rapel Bakal Cair Serentak, Cek Jadwalnya di Sini
Disusul Kabupaten Lombok Tengah sebanyak 17.280 tabung. Kota Mataram sebanyak 12.680 tabung, dan Kota Bima sebanyak 3.920 tabung.
Kota Bima sendiri mencatat rasio pemenuhan stok tertinggi dengan proyeksi kebutuhan terpenuhi 100 persen.
“Jumlah ini diharapkan mampu mencukupi kebutuhan aktivitas masyarakat, sehingga warga dapat menikmati long weekend serta ibadah awal Ramadan dengan tenang dan nyaman,” imbuh Ahad.
Pertamina mengimbau masyarakat untuk tetap bijak dalam melakukan pembelian. Pasokan dipastikan aman, sehingga warga diminta tidak melakukan pembelian berlebihan atau menimbun stok (panic buying).
“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang. Jangan mudah terpancing informasi yang belum tentu benar. Jangan sampai kekhawatiran ini justru dimanfaatkan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab untuk mencari keuntungan pribadi,” pungkasnya.
Editor : Kimda Farida