LombokPost – Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) NTB angkat bicara terkait keluhan warga NTB soal kelangkaan elpiji 3 kg.
Ditegaskan, kondisi stok di gudang Pertamina saat ini melimpah. Namun terjadi anomali di tingkat konsumsi masyarakat.
Ketua Hiswana Migas NTB Reza Nurdin membeberkan, anggapan kelangkaan ini lebih dipicu lonjakan permintaan yang tidak merata.
Hal itu akibat pergerakan pemudik dan perilaku belanja masyarakat yang berlebihan.
Berdasarkan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dan Pertamina Patra Niaga, Reza menyebutkan, langkah antisipasi sebenarnya sudah dilakukan.
“Pertamina sudah melakukan extra dropping pada tanggal 17, 18, 19, 22, dan 25 Maret. Total tambahan mencapai 250 persen dari alokasi harian normal, atau sekitar 87.360 tabung tambahan yang telah digelontorkan ke pasar,” jelas Reza.
Menurutnya, persepsi kelangkaan muncul karena adanya pergeseran pola konsumsi yang drastis. Saat arus mudik, konsumsi di pusat kota seperti Mataram cenderung menurun.
Sementara di daerah asal pemudik seperti Lombok Timur, permintaan melonjak tajam dalam waktu singkat.
“Warga yang biasanya bekerja di kota kini kembali ke kampung halaman. Hal ini membuat distribusi konsumsi elpiji 3 kg berubah signifikan. Kebutuhan di daerah meningkat karena aktivitas dapur rumah tangga yang tinggi selama Lebaran,” terangnya.
Selain faktor mudik, Reza juga menyoroti adanya gejala panic buying. Banyak konsumen yang membeli lebih dari satu tabung dalam sehari karena khawatir kehabisan stok menjelang Lebaran Topat.
“Kondisi inilah yang membuat stok di pangkalan cepat ludes meski pun pengiriman berjalan normal,” sambungnya.
Untuk menstabilkan harga yang sempat meroket di tingkat eceran, Hiswana Migas NTB mengeluarkan instruksi tegas kepada seluruh agen dan pangkalan.
Di antaranya, pangkalan dilarang keras menyalurkan elpiji 3 kg kepada pengecer, harus langsung ke masyarakat.
Setiap rumah tangga dibatasi maksimal membeli satu tabung per orang per hari. Selain itu, harga jual di pangkalan wajib mengikuti Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan gubernur.
“Kami harapkan pangkalan mematuhi aturan ini agar distribusi merata dan harga terkendali. Jangan sampai masyarakat terbebani harga yang tidak wajar,” tegas Reza.
Reza optimis gejolak di lapangan akan segera mereda seiring berakhirnya puncak arus mudik dan kembalinya aktivitas warga ke pola normal.
Ia memperkirakan tekanan konsumsi akan berangsur turun dalam beberapa hari ke depan setelah Lebaran Topat.
“Kami terus memantau agar penyaluran dari agen ke pangkalan tetap berjalan tanpa kendala,” pungkasnya.
Sebelumnya, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ahad Rahedi menjelaskan, lonjakan permintaan merupakan fenomena musiman yang dipicu rentetan hari besar keagamaan.
"Untuk memastikan ketersediaan, kami telah menambah pasokan signifikan sepanjang Maret ini. Di Lombok Tengah, tambahan mencapai 89.600 tabung, sementara di Lombok Timur sebanyak 110.320 tabung. Keduanya naik sekitar 13,2 persen dari alokasi normal," beber Ahad.
Editor : Prihadi Zoldic