LombokPost - Plastik sering dianggap sebagai komponen pelengkap kecil dalam struktur pengeluaran rumah tangga.
Meski begitu, kenaikan harga plastik pembungkus kini mulai diwaspadai sebagai pemicu baru inflasi.
Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mengingatkan kenaikan ini dapat memicu efek domino pada sektor usaha kecil hingga jasa layanan masyarakat.
Baca Juga: Harga Plastik Mahal? Tiru Strategi Tumbler Starbucks Agar Bisnis Minuman Tetap Cuan!
Kepala BPS NTB Wahyudin menekankan, andil (share) plastik terhadap inflasi tidak sebesar komoditas pangan seperti beras dan cabai.
Walau begitu, pergerakan harganya tetap memberikan tekanan pada indeks harga konsumen.
Kenaikan harga plastik pembungkus dirasakan langsung para pedagang kecil di pasar tradisional dan pengusaha jasa, seperti laundry.
Baca Juga: Harga Plastik Melonjak, Pelaku UMKM Kebingungan
Plastik masih menjadi kebutuhan primer bagi pedagang pasar sebagai pembungkus barang dagangan. Sementara bagi pengusaha laundry, plastik merupakan komponen kemasan utama.
"Tetap ada pengaruhnya terhadap inflasi. Sekarang yang menjadi tantangan adalah bagaimana pedagang-pedagang kecil di pasar yang masih bergantung pada plastik ini bisa menyiasati kenaikan tersebut," jelasnya, Rabu (15/4).
Salah satu kekhawatiran utama otoritas statistik, munculnya fenomena kenaikan harga barang lain yang menumpang pada isu kenaikan harga plastik.
Baca Juga: Harga Plastik Naik Gila-Gilaan, UMKM Kena Imbas
BPS menegaskan, kenaikan biaya kemasan tidak seharusnya menjadi alasan bagi pedagang untuk menaikkan harga bahan pokok secara ugal-ugalan. "Ini yang harus dijaga. Baru harga plastik yang naik, kenapa harga-harga lain ikut naik? Padahal stok kebutuhan pokok kita saat ini sangat banyak dan mencukupi," tegasnya.
Pihak BPS meminta Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota untuk memperketat pengawasan di pasar. Tujuannya agar kenaikan harga plastik tidak merambat (spillover) ke komoditas lain yang ketersediaannya sebenarnya masih aman.
Di sisi lain, momentum kenaikan harga ini diharapkan menjadi titik balik bagi masyarakat dan pelaku usaha untuk mulai mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai. Selain untuk menekan biaya operasional usaha, langkah ini juga sejalan dengan program lingkungan hidup yang sudah lama dicanangkan di beberapa wilayah NTB.
Mengenai tren inflasi pada semester pertama tahun 2026, BPS terus melakukan pemantauan ketat. Daya beli masyarakat diprediksi akan tetap terjaga selama kenaikan harga komoditas pendukung seperti plastik tidak memicu kenaikan harga pangan secara sistemik. (fer/r6)
Editor : Redaksi