LombokPost – Pandemi Covid-19 sempat berujung pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari sebuah kapal pesiar mewah.
Nasib yang awalnya terlihat malang itu, ternyata itu menjadi pintu rezeki baru bagi Baiq Andrea, asal Desa Beleka, Lombok Tengah.
Dalam waktu luangnya, Baiq Andrea berhasil mengolah limbah kerang pantai dan kain perca menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi di pasar digital.
Baca Juga: Alhamdulillah Segera Cair, SPM Bansos Tahap 2 2026 Muncul di Dua Bank Himbara Ini
Melalui brand Baiq Local Corner, Andrea kini membangun ekosistem bisnis rumahan beromzet puluhan juta Rupiah. Sekaligus juga memberdayakan kaum perempuan di lingkungannya.
Ide bisnis ini lahir saat Andrea melihat melimpahnya kerang yang berserakan di Pantai Kuta, Lombok Tengah. Ia menyadari, oleh-oleh khas Lombok selama ini didominasi oleh mutiara yang harganya relatif mahal.
"Saya berpikir, adakah produk terjangkau yang bisa dibeli semua kalangan, bahkan anak sekolah? Saat melihat kerang berserakan di pantai, saya langsung terpikir untuk memanfaatkannya menjadi aksesoris seni," tutur Andrea.
Sepulangnya ke Beleka pada tahun 2020, dia memadukan kerang-kerang tersebut dengan kain perca etnik sisa jahitan ibunya serta anyaman ketak khas Lombok. Hasilnya, anting, gelang, kalung, hingga tas handmade yang memiliki sentuhan estetik tradisional yang kuat.
Kesuksesan Local Corner tidak dinikmati Andrea sendirian. Meledaknya permintaan pasar membuatnya merangkul 10 ibu rumah tangga di sekitar rumahnya.
Langkah ini menjadi solusi bagi para tetangganya untuk memiliki penghasilan tambahan tanpa harus meninggalkan kewajiban di rumah.
Baca Juga: BNN Mataram Bentuk Saka Pramuka Anti Narkoba, Perkuat Pencegahan di Sekolah
"Rasanya bangga melihat mereka punya penghasilan sendiri," sambungnya.
Kunci sukses Local Corner menembus pasar internasional terletak pada optimalisasi platform digital. Andrea fokus membangun reputasi di Shopee selama lima tahun terakhir.
Melalui program Layanan Ekspor Shopee, produk kerajinan dari Desa Beleka ini rutin dikirim ke Singapura, Malaysia, Vietnam, hingga Thailand.
Bagi Andrea, sistem digital sangat membantu UMKM kecil untuk go international tanpa harus terbebani urusan logistik yang rumit.
Baca Juga: Kabar Gembira! Bansos Tahap 2 2026 Mulai Cair Bertahap via Kartu KKS, Aceh Jadi Pionir
Pesanan yang masuk pun tak main-main, seringkali mencapai 1.000 unit aksesoris dalam sekali pesanan.
Meski pun menyasar pasar ekspor, Andrea tetap mempertahankan harga yang sangat kompetitif. Aksesoris kecil dibanderol mulai Rp 8.000-25.000 per unit. Tas anyaman ketak dibanderol Rp 60.000-300.000 per unit.
Strategi harga ini terbukti jitu. Dari penjualan aksesoris saja, Andrea mampu mengantongi omzet Rp 2-3 juta per bulan.
Baca Juga: Tim Basket MTsN 1 Mataram Juara Tunas Daud Championship 2026
Sementara itu, lini produk tas ketak menjadi penyumbang terbesar dengan penghasilan bulanan mencapai Rp 15-20 juta.
"Produk yang awalnya dari limbah pantai sekarang punya pelanggan tetap di luar negeri. Platform digital benar-benar menjadi jembatan bagi kami untuk promosi tanpa batas," pungkasnya.
Editor : Akbar Sirinawa