Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Rumah Jahit Laras Lawan Gempuran Busana Ready to Wear

Geumerie Ayu • Jumat, 22 Mei 2026 | 14:44 WIB
TERUS BERKEMBANG: Laras yang tengah menyesuaikan ukuran desain dengan pesanan pelanggan, beberapa waktu lalu. (Istimewa)
TERUS BERKEMBANG: Laras yang tengah menyesuaikan ukuran desain dengan pesanan pelanggan, beberapa waktu lalu. (Istimewa)

LombokPost – Para pelaku usaha jasa menjahit konvensional terus bertahan di tengah gempuran tren busana ready to wear (siap pakai) impor murah. Salah satunya, Rumah Jahit Laras di Monjok, Kota Mataram.

Meski berada di sebuah gang sempit, Rumah Jahit Laras terus berjuang menjaga kepercayaan konsumen.

Setiap hari ada saja konsumen yang datang. Semua berkat strategi bisnis tepat yang diusung sang owner, Larasati.

Baca Juga: Sensatia Hadirkan Lip Balm Collection dengan Formula Vegan

Beruntungnya, bantuan modal usaha untuk peralatan jahit juga datang dari salah satu wakil rakyat di Udayana.

Laras memperoleh bantuan dari program Pokir DPRD NTB Yek Agil yang saat itu getol-getolnya memperhatikan geliat usaha pelaku UMKM pemula.

Dalam menjalankan usahanya, lulusan 2020 dari Akademi Kesejahteraan Sosial (AKS-AKK) Jogjakarta ini pun juga melakukan terobosan pada sistem hulu bisnisnya.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Promosi Internasional Digenjot

Dia merombak supply chain (jalur pasokan) bahan baku kain tradisional dengan memanfaatkan ekosistem e-commerce.

Itu menjadi sebuah langkah yang sukses memotong biaya modal operasionalnya hingga puluhan persen.

Bagi seorang penjahit mandiri, harga bahan kain dan pernak-pernik sering kali menjadi penentu utama hidup-mati sebuah usaha. Berkat kejeliannya memanfaatkan platform digital, Laras kini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada toko tekstil lokal konvensional.

Baca Juga: PNM dan BRI Life Perkuat Literasi Keuangan Nasabah Mekaar di Mataram

“Jika berbelanja di toko lokal, harga bahan utama seperti satin atau brokat bisa selisih hingga 20 persen lebih mahal. Sementara di toko online langsung dari pusat grosir, saya bisa mendapatkan kain berkualitas dengan harga Rp 30 ribu per meter. Yang di toko lokal sini mungkin dibanderol mencapai Rp50 ribu per meter,” beber Laras.

Selisih harga yang signifikan tersebut memberikan ruang bagi Laras untuk memutar modal usaha secara lebih fleksibel.

Tak hanya kain utama, kebutuhan pelengkap produksi seperti payet mutiara, manekin, hingga label khusus untuk mereknya kini rutin dipasok secara daring.

Belanja bahan secara daring jelas memiliki risiko karena tidak bisa menyentuh tekstur kain secara langsung.

Baca Juga: PT Tripat Pertimbangkan Serahkan Kembali Aset LCC ke Pemkab Lobar

Namun latar belakang pendidikannya di bidang tata busana menjadi modal kuat. Laras sangat jeli dan presisi dalam menganalisa kredibilitas toko digital sebelum bertransaksi.

Efisiensi biaya produksi di hulu ini membuat Rumah Jahit Laras mampu menawarkan harga jasa jahit yang bersaing tanpa mengorbankan kualitas. Siasat ini menjadi jawaban tepat di tengah pergeseran gaya hidup konsumen muda Mataram yang kian digital.

Saat ini, perilaku pelanggan dalam memesan pakaian telah berubah total. Jarang ada konsumen yang datang membawa buku katalog fisik model baju.

Baca Juga: 379 Siswa MTsN 1 Mataram Dilepas, Raih 349 Prestasi hingga Tingkat Internasional

Sebagian besar dari mereka merupakan anak muda yang didominasi pencari busana bridesmaid dan wisuda. Mereka datang membawa referensi tangkapan layar dari tren yang ditemukan di Instagram, TikTok, atau Pinterest.

“Kami menawarkan personalisasi ukuran dan detail modis yang tidak dimiliki oleh pakaian pabrikan masal,” ujarnya.

“Di sini, konsumen bisa mendapatkan gaun impian mereka yang sesuai dengan tren media sosial, namun dengan harga yang tetap masuk akal karena kami berhasil menekan biaya modal bahan baku di awal,” sambung Laras.

Baca Juga: Iran Loloskan 26 Kapal dari Blokade Amerika di Selat Hormuz

Efisiensi digital ini juga diterapkan Laras dalam sistem pelayanan pelanggan. Proses konsultasi model busana kini hampir 90 persen bergeser ke ruang obrolan WhatsApp.

Konsumen cukup mengirimkan detail ukuran dan foto referensi, berkonsultasi mengenai jenis bahan, dan melakukan pembayaran melalui transfer antarbank.

Setelah selesai diproduksi, pesanan langsung dikirim ke alamat konsumen memanfaatkan jasa kurir.

Editor : Akbar Sirinawa
#Rumah Jahit Laras #ready to wear #jasa menjahit konvensional #UMKM #BISNIS