LombokPost – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) NTB mencatat, tingkat optimisme konsumen di NTB masih terjaga baik pada peta triwulan II 2026.
Kepala KPwBI NTB Hario K Pamungkas menjelaskan, indikator utama kekuatan ekonomi domestik ini tercermin dari angka Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menyentuh level 129 per Mei 2026.
Angka tersebut membuktikan psikologis pasar NTB masih berada dalam zona optimis. Konsisten bertengger di atas ambang batas atau level 100.
Baca Juga: Anak Pekerja Migran di Jeddah Berharap Program MBG Hadir
"Baik Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE), maupun Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK), seluruhnya menunjukkan kondisi yang serupa,” sambungnya.
Riset berkala BI memperlihatkan Indeks Kondisi Ekonomi saat ini (IKE) di NTB berada di level 121. Untuk proyeksi ke depan, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) 113.
Ketahanan finansial ini merata di seluruh kelompok pengeluaran masyarakat yang kompak berada di atas angka 100.
Baca Juga: Rekomendasi 5 Drama Korea Terbaru yang Siap Tayang Juni 2026
Meski mengalami normalisasi atau sedikit penurunan tiping jika dibandingkan dengan capaian triwulan sebelumnya.
Menariknya, survei BI kali ini menangkap adanya pergeseran pola penggunaan pendapatan keluarga yang semakin sehat di NTB.
Alokasi dana masyarakat terpantau meningkat untuk pemenuhan konsumsi rumah tangga dan pos tabungan.
Baca Juga: Sebut Ekonomi Mengkhawatirkan, PDIP Kritisi Belanja Negara yang Hanya Bersifat Populis Elektoral
“Sedangkan porsi pembayaran cicilan utang atau pinjaman justru mengalami penurunan,” katanya.
Secara rinci, struktur penggunaan penghasilan masyarakat NTB saat ini didominasi sektor konsumsi sebesar 72,26 persen.
Selanjutnya, masyarakat menyisihkan 14,29 persen pendapatan untuk melunasi cicilan pinjaman, dan 13,45 persen sisanya ke tabungan.
Stabilitas daya beli ini linier dengan data liaison Bank Indonesia. Data mencatat aktivitas niaga pada lapangan usaha perdagangan besar serta eceran yang cenderung stabil sepanjang triwulan II 2026.
Baca Juga: Mirra Andreeva Menggila di Roland Garros, Libas Sorana Cirstea 56 Menit dan Kunci Tiket Semifinal
Indikator penguat di sektor riil juga ditunjukkan lonjakan performa industri otomotif dan properti. Secara tahunan, penjualan kendaraan roda dua di NTB tumbuh di angka 13,84 persen.
Disusul pertumbuhan fantastis pada penjualan kendaraan roda empat hingga 27,75 persen.
“Selain itu, gairah sektor konstruksi lokal ikut tercatat positif dengan naiknya volume penjualan semen sebesar 7,57 persen,” jelasnya.
Baca Juga: Campus Hiring SMKN 1 Lembar dan PT Pelni Dibuka, Peluang Kerja untuk Alumni SMK Pelayaran
Namun, kondisi kontras terjadi pada performa niaga elektronik. Penjualan melalui platform digital (e-commerce) di NTB justru terkoreksi tajam dan mengalami kontraksi hingga 20,88 persen.
Menurut analisa BI, lesunya transaksi digital ini dipicu kebijakan makro korporasi digital yang mulai memangkas perang tarif.
"Beberapa marketplace saat ini sudah tidak lagi gencar memberikan fasilitas promosi gratis ongkos kirim (ongkir). Faktor hilangnya subsidi ongkir ini ditengarai menjadi penyebab utama mengapa penjualan e-commerce di NTB mengalami penurunan," pungkas Hario.
Baca Juga: 139 Siswa MAN 2 Mataram Lolos SNBT 2026, Tembus UI, ITS hingga Unair
Editor : Pujo Nugroho