LombokPost – Aktivitas perekonomian dan digitalisasi sistem pembayaran di NTB menunjukkan performa yang kian progresif memasuki Triwulan II 2026.
Data Bank Indonesia (BI) NTB mencatat adanya fenomena menarik. Terjadi lonjakan aliran uang tunai keluar (net outflow) hingga melesatnya adopsi transaksi non-tunai berbasis QRIS antarnasional serta transaksi valuta asing (valas).
Tingginya konsumsi dan perputaran uang masyarakat menjelang perayaan Iduladha berimbas langsung pada kondisi likuiditas perbankan daerah.
Pada awal Triwulan II data per April 2026, NTB resmi membukukan net outflow sebesar Rp 430 miliar.
Fenomena penarikan uang kartal dalam skala besar ini dinilai wajar secara musiman.
Karakteristik masyarakat NTB membutuhkan uang tunai untuk keperluan berbelanja hewan kurban, sembako, kebutuhan pokok, hingga persiapan mudik lebaran haji.
Baca Juga: Alphard XE HEV Tawarkan Sensasi Berkendara Mewah yang Berkelas
Semua ini menjadi pemicu utama melesatnya aliran modal keluar dari kas negara tersebut.
Di tengah tingginya penarikan uang tunai ini, tren pergeseran gaya hidup menuju ekosistem digital (cashless) justru semakin mengakar kuat.
Hal ini tercermin dari lonjakan volume transaksi pada platform pembayaran non-tunai modern.
Baca Juga: Curi Perhatian, Bros Mandalika Kreasi May Mutiara Lombok Jadi Primadona
Berdasarkan data grafik Triwulan I 2026, performa sistem pembayaran digital daerah mencatatkan angka yang impresif. Layanan BI-FAST tumbuh pesat sebesar 33,81 persen secara tahunan.
Nilai transaksinya menembus Rp 56,3 triliun.
“Sistem SKNBI dan RTGS mengikuti tren positif dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 18,99 persen (yoy),” ujar Kepala BI NTB Hario K Pamungkas.
Lonjakan ini menunjukkan infrastruktur transfer dana yang murah, cepat, dan aman kian diandalkan korporasi, UMKM, maupun masyarakat umum di NTB untuk aktivitas bisnis harian.
Baca Juga: Mahasiswa FK Unizar Raih Dua Bronze Medal Lewat Inovasi Kesehatan dan Mitigasi Bencana
QR Code Indonesian Standard (QRIS) juga menunjukkan kurva pertumbuhan yang sangat stabil dalam rentang waktu Maret 2024 - Maret 2026.
Hingga Maret 2026, jumlah pelaku usaha (merchant) di NTB yang menyediakan fasilitas pembayaran scan barcode QRIS menyentuh angka 444 ribu merchant.
“Ekosistem ini didukung total pengguna (user) aktif yang kini telah mencapai 538 ribu pengguna,” sambungnya.
Baca Juga: Ahli Sebut Dewan Tak Punya Kewenangan Eksekusi Anggaran dalam Sidang Perkara Gratifikasi DPRD NTB
Menariknya, integrasi sistem pembayaran internasional atau QRIS Cross Border juga mengalami tren peningkatan yang signifikan.
Para pelaku UMKM dan pariwisata di NTB kini semakin sering melayani transaksi langsung dari turis Malaysia, Thailand, dan Singapura.
Pulihnya pariwisata premium dan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke destinasi unggulan membawa berkah tersendiri bagi bisnis penukaran mata uang. Seperti Gili Tramena, Mandalika, dan Samota.
Baca Juga: Buronan Kasus Korupsi Proyek Jalan TWA Gunung Tunak Divonis 4 Tahun 9 Bulan
Tercatat, perkembangan transaksi Valuta Asing (Valas) di wilayah NTB pada Triwulan I 2026 sukses melonjak hingga 27 persen.
Aktivitas penukaran uang ini menjadi indikator valid daya tarik pariwisata NTB di mata internasional kian kokoh.
Editor : Akbar Sirinawa