LombokPost – Lombok Barat memiliki potensi air nira yang menjanjikan. Selain menjadi gula aren, air nira mentah kini didorong jadi produk minuman premium kemasan.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan, air sadapan pohon aren kerap berakhir dengan proses pengolahan yang kurang efisien, atau sekadar difermentasi secara tradisional.
Jika ditelisik, memproduksi gula merah membutuhkan energi dan waktu yang panjang. Menghasilkan satu kilogram gula merah, petani harus mengorbankan sedikitnya 10 liter air nira.
Baca Juga: Tenun Dompu Pantas Dikenalkan ke Pasar Nasional dan Global
Proses memasak di atas tungku api hingga delapan jam lamanya.
Harga yang didapat dari kerja keras itu hanya mentok di angka Rp 40 ribu saja per kilogram.
"Padahal kalau 10 liter air nira itu kita kemas menggunakan botol premium, bisa menghasilkan sekitar 40 botol minuman kekinian dengan harga jual Rp 10 ribu per botol. Artinya, dari bahan baku yang sama, nilainya melonjak jadi Rp 400 ribu," jelas Gubernur.
Baca Juga: Dampak Libur Panjang, Hotel di Mataram Kebanjiran Tamu
Karenanya Pemprov NTB merancang sentuhan teknologi tepat guna yang murah dan mudah diaplikasikan masyarakat.
Menghentikan proses fermentasi alami nira, cairan tersebut bakal melalui proses sterilisasi menggunakan sinar ultraviolet (UV) sebelum dikemas rapi.
Salah satu idenya, air nira siap disuplai ke jaringan hotel dan restoran sebagai welcome drink atau minuman penyambut para tamu.
Baca Juga: SUGA BTS Berinvestasi di SpaceX Sebelum IPO, Potensi Cuan Tembus 3.750 Persen
Langkah ini sekaligus menjadi strategi jitu dalam memadukan pertanian lokal dengan pariwisata NTB.
Disperindag NTB kini melakukan kajian mendalam. Termasuk menguji ketahanan dan masa kedaluwarsa produk pasca-sterilisasi.
Editor : Akbar Sirinawa