Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Berkunjung ke Pondok Pesantren Darul Aman Kota Mataram

Administrator • Kamis, 29 April 2021 | 17:30 WIB
AMAN UNTUK DIET: Vina Alpiani, pengusaha Dessert Box Diet Friendly Entitas menunjukkan kuliner yang dibuat di kediamannya di Perumahan Pagutan Permai, pekan lalu. Makanan penutup ini aman bagi orang diet. (Rojai/Lombok Post)
AMAN UNTUK DIET: Vina Alpiani, pengusaha Dessert Box Diet Friendly Entitas menunjukkan kuliner yang dibuat di kediamannya di Perumahan Pagutan Permai, pekan lalu. Makanan penutup ini aman bagi orang diet. (Rojai/Lombok Post)
Setiap santri di Ponpes Darul Aman wajib menguasai bahasa Arab. Selain itu, mereka juga dipandu agar menjadi penghafal Alquran atau tahfiz.

------------------------------------

DARUL Aman. Nama sebuah ponpes yang terletak di ujung timur Kota Mataram, tepatnya di Lingkungan Tegal, Kecamatan Sandubaya. Meski berada di daerah perbatasan, ponpes yang berdiri pada 1998 lalu ini cukup terkenal. Buktinya 600 santri kini mengenyam pendidikan di ponpes tersebut. Mereka berasal dari berbagai daerah.

“Dulu pas awal buka, santri hanya sembilan orang,” kata Kepala MTs Darul Aman Zainul Amilin, kemarin.

Nampak para santri yang duduk dibangku MTs terlihat sibuk di dalam kelas. Pandangan mereka terus ke depan melihat selebaran kertas yang isinya soal  ujian akhir madrasah (UAM). Tangan mereka terus bekerja mengisi jawaban dari soal ujian yang telah dibuat para guru setempat.

Para santri bergelut dengan waktu. Naskah soal yang ada pada UAM harus tuntas dikerjakan. Sehingga nantinya bisa menjadi nilai tambah untuk naik tingkat. “Sekarang anak MTs sedang UAM,” kata Zainul, sapaan karibnya.

Dia menceritakan awal berdiri ponpes Darul Aman. Pada 1998 lalu ponpes yang terletak di Jalan Pertanian, Lingkungan Tegal ini menekankan para santrinya untuk bisa menguasai bahasa Arab. Sebab, pendiri ponpes ini alumni salah satu ponpes di Gontor, Jawa Timur.

Namun seiring perkembangan, tepatnya pada 2010 ponpes ini membuat program tahfiz. Tanpa menghilangkan program penguasaan bahasa Arab. “Program penguasaan bahasa Arab tetap jalan,” tutur bapak tiga anak ini.

Program tahfiz tidak sembarang diikuti para santri. Mereka harus seleksi untuk bisa masuk dalam program unggulan tersebut. “Santri yang masuk dalam program tahfiz orang pilihan. Yang jelas anaknya pintar-pintar,” terang dia.

Para santri yang masuk dalam program tahidz tidak seperti santri pada umumnya. Mereka tidak belajar formal seperti santri lainnya. Mereka digenjot memperdalam hafalannya. Bakda Ashar sampai pukul 18.00 Wita mereka akan mengaji. Kemudian dilanjutkan jam malam dan bakda Subuh. Begitu juga pada siang hari mereka memperdalam hafalannya. “Proses belajarnya sampai empat kali kalau program tahfiz,” tutur dia.

Lalu bagaimana dengan pembelajaran formal? Zainul menuturkan, pembelajaran formal tidak dilakukan seperti santri reguler. Santri yang tergolong Intelligence Quotient (IQ)-nya tinggi  masuk dalam kelas akselerasi. Pada saat mau ujian atau semester, para santri yang masuk dalam program tahfiz diberikan pembinaan khusus untuk mengejar materi yang diajarkan. “Kalau santri yang ikut program tahfiz cepat memahami materi yang diajarkan,” cetus dia.

Menghafal Alquran 30 juz di ponpes ini, diberikan waktu 6 tahun. Artinya dalam setahun ditargetkan bisa hafal 5 juz. Tapi kata dia, dalam waktu tiga tahun para santri ada yang sudah khatam dalam menghafal Alquran. “Ada santri kami yang namanya Muharrar Zamzani dua tahun sudah hafal 30 juz,” ucap dia.

Biasanya lanjut dia, dalam dua tahun sekali para santri program tahfiz diwisuda. Ada yang diwisuda dengan hafalan 10 juz, 20 juz, dan 30 juz. Santri yang diwisuda diberikan penghargaan berupa sertifikat yang disaksikan langung para wali santri. (Ali Rojai/r3) Editor : Administrator
#Ponpes #tahfiz #Darul Aman