Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kisah A, Bocah 4 Tahun yang Selamat dari Kecelakaan Maut di Balikpapan

Baiq Farida • Sabtu, 22 Januari 2022 | 11:32 WIB
RINGSEK: Kondisi salah satu kendaraan yang terlibat kecelakaan maut di Simpak Rapak, Balikpapan, Jumat (21/1/2022). ( FUAD MUHAMMAD/JPG)
RINGSEK: Kondisi salah satu kendaraan yang terlibat kecelakaan maut di Simpak Rapak, Balikpapan, Jumat (21/1/2022). ( FUAD MUHAMMAD/JPG)
BUYUNG 4 tahun berkemeja biru itu tidak mengalami luka. Tapi, kecelakaan hebat yang menyisakan trauma baru saja dia alami bersama kedua orang tuanya.

-----------------------

’’Kejadiannya masih terngiang-ngiang. Awal bertemu tadi pupil matanya masih kosong,” kata Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Balikpapan Esti Santi Pratiwi kepada koran ini Jumat (21/1/2022).

A, bocah tersebut, dievakuasi warga sekitar dari lokasi tabrakan beruntun di Muara Rapak, Balikpapan, kemarin pagi ke Klinik Ibnu Sina. Ayahnya, MY, mendapat perawatan intensif di RSUD dr Kanujoso Djatiwibowo. Sedangkan sang ibu, WS, dilarikan ke RSUD Beriman.

Di klinik, psikolog UPTD PPA Nurul Mahmudah Umar bersama staf lain mencoba untuk mengalihkan perhatian A. Mereka menghibur balita tersebut dengan menyuguhkan tontonan Avatar dan Upin & Ipin, serial hiburan favorit anak seusianya. Sekotak susu cokelat, wafer, dan roti sudah habis menemani A yang bermain ponsel. Melihat sang bocah mulai bosan menonton, game daring menjadi hiburan selanjutnya.

Setelah itu, A diajak untuk menggambar. Opsi hiburan di dalam ruangan tersebut memang terbatas. Karena itu, psikolog berusaha mencari cara untuk menghiburnya. Ketika diminta menggambar, A memilih menulis huruf hijaiyah atau alfabet Arab.

Psikolog tetap mendampingi sembari mengajak A berbincang agar dia terus teralihkan. Tujuannya, tidak mengingat kejadian yang baru menimpanya. A pun pandai bercerita.

Dia selalu menjawab berbagai pertanyaan yang disampaikan psikolog. Sekali lagi, cara itu dilakukan untuk mengalihkan perhatiannya. ’’Aku besok mau pergi ngaji,” tuturnya.

Dalam sela-sela obrolan, dia bercerita bagaimana kondisinya di dalam mobil nahas tersebut. Kejadian itu disampaikan berulang-ulang. Saat asyik bermain dan bercerita, tiba-tiba dia kembali menuturkan kondisi kecelakaan.

’’Ban sudah kempes, mobilnya rusak. Aku mau keluar, tapi tidak bisa. Kacanya tidak bisa terbuka, pintunya. Untungnya, ada Pak Ustad yang gendong,” ujarnya.

Itu yang kerap dia ucapkan. Ketika memori tersebut muncul, psikolog segera mengalihkan perhatiannya dengan mengajak ngobrol dan makan.

Setelah beragam permainan, A merasa lelah dan tertidur di atas meja sekitar pukul 12.00 Wita. Dia yang didampingi tiga orang dari UPTD PPA cukup lama berada di dalam ruangan tersebut. Petugas menemani sambil menunggu kepastian kerabat A yang akan menjemput.

Setelah kejadian, A sempat bertemu teman orang tuanya, Afifah Nursadilah, yang menjenguk ke Klinik Ibnu Sina. Perempuan yang akrab disapa Dila itu sudah tidak asing bagi A. Bahkan, saat Dila berkunjung, A langsung mengenali dan bercerita tentang kondisinya.

Kepada koran ini, Dila mengaku sangat mengenal keluarga asal Samarinda, Kalimantan Timur, tersebut. Mereka saling kenal karena berada dalam Ikatan Keluarga Bima Dompu (Ikabido).

Dila mengatakan, MY merupakan staf manajemen di sebuah plaza di Samarinda. Sedangkan istrinya, WS, merupakan pedagang di pasar malam. Mereka tidak punya keluarga kandung di Balikpapan. Namun, Dila dan keluarga Yamin sering jalan bersama jika ada acara.

’’Tahunya dapat info kalau ada kecelakaan,” ungkapnya. (dwi/c7/ttg/JPG/r6)

  Editor : Baiq Farida
#balikpapan #kecelakaan maut