Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Paman Cum, Tukang Urut dari Loteng yang Sudah Terkenal di Lombok

Rury Anjas Andita • Jumat, 19 Mei 2023 | 18:00 WIB
DIPENUHI SAMPAH: Tampak hulu sungai yang menjadi muara pertemuan antara air tawar dan laut terlihat dipenuhi sampah di Labuhan Haji, belum lama ini.
DIPENUHI SAMPAH: Tampak hulu sungai yang menjadi muara pertemuan antara air tawar dan laut terlihat dipenuhi sampah di Labuhan Haji, belum lama ini.
KELURAHAN Leneng dikenal memiliki tukang urut yang jago. Mulai dari pijat badan, terkilir atau keseleo hingga patah tulang. Paman Cum pun menjadi salah satu andalan tukang urut yang banyak dicari para pasien baik lokal hingga mancanegara.

---

KEUNIKAN wilayah Leneng adalah terdapat banyak tukang urut, mulai dari pijat badan, terkilir atau keseleo hingga patah tulang. Meski zaman sudah berkembang, namun tukang urut masih banyak ditemui hingga kini.

Keahlian warga kelurahan Leneng dalam mengurut orang yang mengalami patah tulang tak diragukan lagi. Teknik mengurut tersebut diturunkan dari generasi ke generasi.

Paman Cum salah satunya. Kemahirannya mengurut karena diajarkan dari orang tua sembari memperhatikan tekniknya. "Meski begitu kalau sudah turunannya (tukang urut, red) pasti bisa dengan sendirinya," ucap Paman Cum dikediamannya, kemarin (18/5).

Wartawan koran ini pun mencoba keahlian Paman Cum dalam mengurut. Pergelangan kaki kanan yang terkilir saat mencari berita dilihat Paman Cum. Disentuhnya tonjolan mata kaki yang cukup bengkak itu dengan telunjuk Paman Cum.

Kotak rotan ukuran 20x20 cm dikeluarkan Paman Cum. Ada sebotol minyak urut yang di dalamnya ada rempah-rempah hingga dedaunan kering. Sembari meminta kaki wartawan ini untuk diselonjorkan, Paman Cum mulai mengoles-oles minyak di seluruh pergelangan kaki.

Kedua tangan Paman Cum memegang ujung jemari kaki dan tumit lantas ditarik cukup kencang. Kreeeekkkk. Kreeeeek. Tonjolan tumit kaki yang bengkak ditekannya kembali. Suara kreekkk kembali terdengar. Terakhir, kaki diminta untuk ditekuk sejajar dan krek. Pertanda persendian dipergelangan kaki sudah kembali semula.

Soal rasa bagaimana jangan ditanyakan, air mata dan teriakan wartawan ini sudah dianggap biasa bagi warga di sekitar rumah Paman Cum. Tahap akhir, bagian yang terkilir kembali diolesi minyak khusus, ditempelkan pula daun mengkudu atau pace, lantas dibalut dengan perban untuk mengencangkan pergelangan kaki. Paman Cum pun meminta wartawan ini untuk berdiri dan berjalan perlahan. Alhamdulillah.

Paman Cum adalah generasi ketiga di keluarganya sebagai tukang urut. Selama 17 tahun dirinya berkiprah, diakui sudah banyak makan asam garam. Sebelum menetap di kampung halaman, semasa muda Paman Cum lebih suka bepergian sebagai tukang urat. Sejumlah daerah setiap pelosoknya sudah dijabanin.

"Dari Pulau Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat," tambah Paman Cum yang tak lagi muda itu.

Ketika orang tua sudah tak mampu lagi menjadi tukang urut, Paman Cum pun memilih kembali pulang melanjutkan usaha orang tua yang sudah punya nama di mata masyarakat. Semenjak ditangani Paman Cum, usaha tukang urut milik keluarga semakin ramai. Pasien tidak hanya datang dari lokal saja, luar daerah hingga mancanegara.

"Kebanyakan pasien ada dari Malaysia, Belanda juga pernah ada datang, tapi yang datang justru menanyakan minyak apa yang saya pakai," ucapnya.

"Tidak ada yang khusus, selama proses pengurutan membaca bacaan Alquran dan pasien kita minta terus beristigfar," tambah Paman Cum.

Biasanya untuk pulih normal perlu diurut dua hingga lima kali. Tergantung tingkat kesakitan yang dialami pasien. Paman Cum mengaku, tidak pernah memasang tarif khusus atas jasanya atau pasien cukup bayar seikhlasnya. "Memang pesan orang tua dulu agar tidak menentukan tarif, berapa pun dikasih harus kita terima," tutup Paman Cum. (ewi/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#Lombok Tengah #tukang urut #leneng #paman cum