Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Banzai Mataram Japan Community: Penampilan Jepang tapi Hati Indonesia

Miq Ade • Rabu, 18 Oktober 2023 | 20:54 WIB
Nanda dengan project cosplay Kazama dari Anime Hakuoki.
Nanda dengan project cosplay Kazama dari Anime Hakuoki.
  
 
 
Nama organisasi terdengar heroik dan berbau peperangan. Tetapi, Banzai Mataram berisikan remaja yang giat mengasah bakat dari hobi Jejepangan. 
 
LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram 
 
I Made Widya Jayananda bergabung dengan Banzai Mataram Japan Community pada tahun 2015. Keinginan itu muncul karena Nanda merasa punya sahabat satu frekwensi pencinta budaya Jepang. 
 
Persaudaraan yang tinggi menghadirkan rasa cinta dan semangat aktif berkegiatan di Banzai. "Pada tahun 2017 saya menjadi koordinator divisi Cosplay," kisahnya. 
 
Banzai tidak hanya sekadar sekumpulan fans. Ada tradisi keilmuan di dalamnya. Anggotanya belajar tentang pendalaman karakter, belajar khazanah budaya Jepang, hingga belajar bahasanya  
 
"Kegiatannya sangat positif," ungkapnya.
 
Jika akhirnya banyak 'alumnus' Banzai yang berkarir di luar daerah, Nanda meyakini ada peran komunitas dalam membentuk mental dan skil mereka. 
 
"(Pendahulu Banzai) kemungkinan banyak di luar daerah," ujarnya. 
 
Sebagai organisasi, Banzai memiliki tiga divisi. Divisi Cosplay, Bunka, dan Bijutsu dan Otaku. "Kegiatan organisasi dirancang oleh masing-masing divisi," jelasnya. 
 
Mereka punya kegiatan rutin untuk merawat dan mengokohkan rasa persaudaraan. Di antaranya, setiap hari Minggu berkumpul dalam format acara gathering.  "Di sana kita kumpul-kumpul bahas kegiatan event," terangnya. 
 
Bicara tentang remaja yang berpakaian menyerupai tokoh anime semisal Kenshin Himura, Naruto, Sasuke, Anggota Akatsuki, dan lain sebagainya itu fokus jadi project divisi Cosplay. Di sini, Nanda mengatakan, para cosplayer tidak hanya dituntut mampu menyerupai secara penampilan tokoh anime dari Jepang yang disukai. Tetapi juga harus bisa mendalami karakter tokoh yang diserupai. Mulai dari mimik wajah hingga gerakan tubuh. 
 
Sebuah kemampuan yang sangat eksplisit dimiliki aktor pemain teater atau pemain film. "Jadi dalam pertemuan, biasanya memberi materi dasar-dasar Cosplay, contoh cara make up, pakai wig, pendalaman karakter, hingga Project Cosplay," jelasnya. 
 
Divisi Bunka berasal dari kata Bunkasai yang artinya kebudayaan. Nanda mengatakan, para anggota mempelajari budaya tradisional Jepang yang punya nilai luhur yang tinggi dan bahasanya. "Contoh buat makanan tradisional, tari-tarian, dan belajar bahasa Jepang," jelasnya.
 
Mereka banyak mengerjakan project tarian tradisional Jepang. Ditampilkan dalam pentas-pentas kebudayaan dan event. 
 
"Sedangkan Divisi Bijutsu dan Otaku adalah divisi seni rupa dan otaku," jelasnya. 
 
Otaku adalah istilah yang berasal dari Jepang. Digunakan sebagai panggilan yang ditujukan bagi orang-orang yang menekuni suatu hobi. Otaku mulai terkenal di luar Jepang sejak paruh kedua dekade 1990-an. 
 
Otaku merupakan definisi sederhana tentang orang-orang yang mendalami atau menggemari suatu hobi lebih daripada orang pada umumnya. Istilah otaku di luar Jepang lebih dikenal sebagai sebutan untuk orang-orang yang menyukai kultur asal Jepang seperti anime ataupun manga. 
 
Tetapi di Indonesia, menjadi panggilan yang lebih luas bagi orang-orang yang menyukai dan menekuni karya seni. Istilah otaku pertama kali diperkenalkan oleh Nakamori Akio dalam artikel “Otaku no Kenkyo” yang berarti Penelitian tentang Otaku.
 
"(Di Banzai) projectnya punya band namanya Kessaku Band," jelasnya. 
 
Bicara tentang divisi Cosplay, Nanda mengatakan banyak yang tertarik karena memang unik dan kaya fantasi. Serupa pesta halloween di barat dengan pakaian hantu-hantuan, tetapi di sini mereka meniru pakaian karakter anime kesayangannya. 
 
"Kalau kostum ada punya masing-masing orang, ada yang sewa, dan ada hibah beberapa dari senpai-senpai kami dari banzai dulu," jelasnya. 
 
Dan yang membuat Banzai ini berbeda dengan organisasi atau komunitas lain, yakni tidak hanya sekadar perkumpulan iseng. "Banzai sendiri sudah resmi di tahun 2019 dan memiliki badan hukum," kata Nanda. 
 
Banzai terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung. Syaratnya memiliki hobi jejepangan. "Yang penting siap aktif, mau memajukan komunitas, dan juga punya izin dari orang tua," tekannya. 
 
Banzai selama ini berkegiatan dengan meminjam fasilitas. Seperti misalnya di taman Budaya. "Dan sekitarnya," jelasnya.  
 
Mindset yang perlu ditekankan pula bagi yang ingin bergabung adalah harus siap berpretasi. Bukan sekadar berpikir tentang senang-senang saja. Sebuah penekanan yang mulia bagi remaja-remaja yang sedang masa pencarian jati diri. 
 
"Ikut kegiatan Banzai harus juga berpikir bagaimana mengharumkan nama Banzai di setiap event," tekannya. 
 
Event dengan tema kebudayaan Jepang memang banyak digelar di Kota Mataram. Sebagian besar dikreasikan oleh remaja-remaja yang telah duduk di sekolah tingkat atas. "Kalau event kami masih ikuti yang regional Lombok," ujarnya. 
 
Event yang diikuti Banzai setiap tahun yakni Smansa Japanese Culture Day, Smala No Bunkasai, dan Manda No Bunkasai. "Anggota komunitas kami sering ikut lomba di sana dan mendapatkan juara," ujarnya. 
 
Seperti di event Sketsa Cosplay Banzai yang diadakan tahun ini, berhasil membawa pulang 4 piala dan 1 penghargaan. "Juara 1 cosplay kategori solo, Juara 1 cosplay grup, Juara 2 cosplay grup, Juara 3 cosplay grup, dan Cosplay Pria terbaik," ungkapnya bangga. 
 
Tetapi, Banzai tidak hanya jago mirip dengan karakter hasil karya seni Jepang. Anggota mereka juga kaya bakat. "Seperti untuk lomba Singing Contest (lagu dalam bahasa Jepang)," ujarnya. 
 
kompetitor mereka adalah sekolah-sekolah yang punya eskul Jejepangan hingga komunitas pecinta budaya Jepang yang lain. "Kami belum punya basecamp, tapi kalau kumpul biasanya di rooftop Mataram Mall atau di taman Sangkareang," jelasnya. 
 
Bagi Nanda tidak ada yang lebih membahagiakan selain bertemu dengan teman-teman sefrekwensi dan kebersamaannya. "Karena di banzai sendiri asas kekeluargaan di mana ada temen-teman yang kesulitan kami pasti bantu, contohnya gempa Lombok 2018, kami membantu anak dengan bercosplay (untuk menghibur) dan memberikan sumbangan," ujarnya. 
 
Sekali lagi Banzai bukan sekadar komunitas hura-hura.  Di sini mereka belajar dan mendalami minat, bakat, dan hobinya. 
 
Pendalaman itu menjadi modal berharga. "Banyak yang sudah kuliah dan bekerja sampai Jepang setelah dapat pengalaman di Banzai," ujarnya. 
 
Nanda menceritakan bagaimana hal itu bisa terjadi. Setiap yang bergabung dipastikan orang yang menyukai tentang Jejepangan. "Nah karena banzai merupakan wadah buat mereka, contohnya yang hobinya nonton anime aja, terus langsung masuk Banzai dan giat ikut kegiatan bahasa Jepang, pastinya bisa ke jepang," katanya memberi contoh yang paling sederhana. 
 
Pada konteks yang lebih meyakinkan lagi, mereka saling menyupport bagi yang ingin pergi ke Jepang. "Termasuk mendapatkan saran cara dari senpai yang sudah ke Jepang," paparnya. 
 
Nanda mengungkapkan punya keinginan untuk ke Jepang. Menikmati langsung kehidupan dan atmosfer budaya yang dikaguminya. "Maunya, tapi kayaknya mikirnya untuk liburan dulu ke Jepang (tidak sampai tinggal) karena masih (lebih) mencintai Indonesia," pungkasnya lalu tersenyum. (*)
 
 
 
Editor : Redaksi Lombok Post
#otaku #divisi #Banzai #cosplay #Mataram #jepang #project #anime