Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Relawan Sahabat Anak (RSA) :Terbentuk saat Gempa Lombok, Puluhan Anak Sudah Merasakan Manfaatnya (1)

Suharli • Jumat, 27 Oktober 2023 | 10:22 WIB

CERIA LAGI: Anak-anak korban bencana yang diberikan trauma healing dari lembaga RSA lebih bersemangat lagi, beberapa waktu lalu.
CERIA LAGI: Anak-anak korban bencana yang diberikan trauma healing dari lembaga RSA lebih bersemangat lagi, beberapa waktu lalu.
Relawan Sahabat Anak (RSA) bergerak memperjuangkan masa depan anak. Lembaga yang berdiri dari tahun 2018 diisi relawan yang berani berkorban. Baik secara materi maupun immateri.

 

SUHARLI, Mataram

 

Anak adalah masa depan bangsa. Perlu dilindungi, diarahkan, dan diberikan pendidikan untuk generasi emas negara.

Tetapi, banyak kasus kekerasan anak muncul. Peristiwa itu mengakibatkan psikologis anak terganggu. Lantas siapa yang menyelamatkan mereka?

Dari permasalahan itu, muncul ide. Ruli Ardiansyah bersama teman-temannya dari berbagai profesi mendirikan Relawan Sahabat Anak (RSA).

”Kami bentuk bersama untuk menyelamatkan masa depan anak. Itu konsep besarnya,” kata Ruli yang juga sebagai Direktur RSA.

Awalnya muncul pada saat bencana Gempa tahun 2018. Kala itu, beberapa anak yang menjadi korban di wilayah Kabupaten Lombok Utara (KLU) butuh trauma healing.

”Kami ngumpul dulu, lalu kami bergerak bersama membangkitkan semangat mereka,” ujarnya.

Isinya para relawan dari berbagai profesi. Ada dari dokter, psikolog, guru, pengacara, dan lainnya. ”Kami dirikan ini tanpa memikirkan gaji,” kata Ruli.

Untuk menjalankan program untuk anak, mereka harus urunan. Bukan saja yang dikeluarkan uang. Tetapi juga keahlian dan alat yang dimiliki.

”Makanya kami sebut relawan. Kita urunan mengeluarkan materi atau immateri,” ujarnya.

Seiring berjalannya waktu setelah memberikan trauma healing ke anak-anak korban gempa, RSA masih tetap eksis.

Kini lembaga yang berdiri di kantor Pelembak, Ampenan, Mataram itu konsen memberikan pendampingan terhadap anak yang menjadi korban.

”Entah korban kekerasan fisik dan kekerasan seksual,” ujarnya.

Fenomena yang ada saat ini, banyak anak juga yang menjadi korban kekerasan. Dari tahun 2020, RSA sudah mendampingi pemulihan psikologis anak mencapai 30-an orang. ”Semua kita berikan gratis,” ujarnya.

Dananya dari mana? Semua relawan urunan. Sebab lembaga RSA didirikan atas keikhlasan para relawannya. ”Kalau relawan yang bergabung di kami ada sekitar 50-an orang. Itu yang masih eksis sampai sekarang. Dulunya ada 100 orang relawan jumlahnya,” ujarnya.  

Tidak ada dana dari pemerintah. Tetapi, niat dan tujuannya tetap membantu pemerintah. ”Cara kami membantu, ya memberikan pendampingan dan pemulihan psikologis anak yang menjadi korban kekerasan,” ujarnya.

Memang terkadang cukup berat menjalankan lembaga ini. Sebab tidak ada suntikan dana dari pemerintah. ”Makanya kalau ada donatur kita selalu terima,” kata dia.

Untuk memulihkan semangat para anak yang menjadi korban kekerasan butuh treatment yang panjang. Makanya untuk menampung anak, mereka menyediakan tempat khusus.

”Tempatnya bisa dibilang tidak terlalu representatif,” bebernya.

Proses rehabilitasi anak menggunakan alat seadanya. Bahkan ruangan konseling pun tidak ada. ”Makanya kita punya alat itu terbatas,” ujarnya.

Tetapi, para relawan tetap tergerak hatinya untuk membantu. Mereka membawa alat-alat yang dimiliki sesuai dengan profesinya.

”Kita manfaatkan hal-hal ideal, yang penting bisa memulihkan para anak dari traumanya,” kata dia.

Ruli mengatakan, memulihkan trauma anak memiliki banyak tantangan. Jika tidak dari hati dan niat yang tulus tidak akan bisa.

”Yang kita hadapi ini anak-anak trauma. Tentu penanganannya berbeda,” ungkapnya.

Mereka yang masih trauma pasti takut dengan orang asing yang baru dikenalnya. Terlebih lagi mereka merupakan korban kekerasan.

Banyak anak yang tidak mau berbicara. Jangankan berbicara, didekati pun mereka takut. ”Itu makanya yang bisa masuk ke mereka itu adalah orang-orang yang memang punya niat tulus,” kata dia.

Harus pelan-pelan mengajaknya berbicara. Pendekatan yang intens juga perlu dilakukan. ”Sulit memulihkan semangat mereka kembali,” ujarnya.

Anak memiliki dunia-nya sendiri. Tidak bisa dipaksakan. ”Makanya kalau anak yang menjadi korban perlu penanganan khusus,” kata dia.

Makanya, bagi relawan yang masuk ke RSA harus juga melalui seleksi. Guna memberikan pelayanan terbaik bagi anak yang menjadi korban kekerasan.

”Intinya terletak pada pendekatan ke anak,” tandasnya. (bersambung/r3) 

 

 

Editor : Redaksi Lombok Post
#gempa lombok 7 sr #Bantuan #Relawan Sahabat Anak RSA #Lombok