Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tanpa Solar, "Profesor" Lulusan SMK Temukan Cara Panaskan Aspal Hotmix

Miq Ade • Rabu, 13 Desember 2023 | 21:00 WIB
Andi As Adi memperlihatkan desain Wood Burner karyanya di aplikasi sketchup.
Andi As Adi memperlihatkan desain Wood Burner karyanya di aplikasi sketchup.

Cadangan minyak dunia termasuk BBM Solar menipis. Padahal produksi Aspal Hotmix memiliki ketergantungan tinggi pada sumber energi itu.

----

ANDI As Adi menyalakan laptop buntutnya. Sesaat kemudian ia telah membuka aplikasi sketchup ‘jadul’ tahun 2017 tempatnya mendesain 3D mesin Wood Burner Pelet.

Pria lulusan SMKN 3 Mataram yang tak lulus kuliah ini, menunjukkan step by step ia merancang inovasi terbarunya. “(Belajar sketchup) otodidak saja,” kata pria yang kerap dipanggil profesor oleh teman-temannya karena membuat banyak alat berbasis teknologi mekanika, Selasa (12/12).

Di ruangan berukuran 3x4 meter itu ia berpikir dan merancang. Dua pigura foto ilmuwan Albert Einstein dan ulama Gus Baha menjadi penyemangatnya.

“Ketika pikiran saya buntu dan kepala sangat penat, saya menjadikan dua tokoh itu sebagai motivasi bangkit lagi,” ujarnya.

Termasuk ketika ia menghadapi situasi sulit merancang ‘jeroan’ Wood Burner Pelet itu. “Kalau desain luarnya saya cari-cari dan lihat di YouTube tetapi untuk perangkat mesin di dalamnya saya buat sendiri,” yakinnya.

Andi mengatakan, bisa saja meniru pleg cara kerja Wood Burner Pelet yang tersedia di internet. Tetapi ia tak tertarik melakukannya karena sejumlah alasan.

“Seringkali contoh yang ada di internet atau YouTube cuma konten yang tak bisa dipertanggungjawabkan isinya, kedua api yang dihasilkan buat pembakaran tidak sesuai harapan, dan banyak masalah lain,” ujarnya.

Ia merasa sangat percaya diri dengan pengetahuan dasar mekanika yang dikuasainya. “Karena itu saya desain sendiri mulai dari bentukan luar menggunakan Sketchup dan juga mesin di dalamnya,” jelasnya.

Andi mengeklaim mesin itu bisa menggantikan ketergantungan industri Aspal Hotmix pada BBM Solar. “Hanya dengan 10-15 kg Wood Pelet, mesin ini bisa menghasilkan semburan api sampai satu jam,” ujarnya.

Pada industri aspal hotmix, memproduksi 1 ton campuran aspal dibutuhkan 11,31 liter solar. Lalu berapa juta liter solar yang dihabiskan membangun ruas-ruas jalan di seluruh negeri selama ini?

Belum lagi dengan rencana pembangunan jalan di masa yang akan datang. “Seorang pengusaha aspal hotmix di Bekasi menantang saya membuat alat yang bisa menggantikan ketergantungan solar itu dan jadilah ini,” jelasnya. 

Wood Burner Pelet ini menggunakan limbah serbuk kayu sebagai pengganti BBM Solar. Pemilihan limbah ini dengan alasan selain harganya murah juga diharapkan membantu menangani pencemaran lingkungan.

“Limbah serbuk kayu ini sangat banyak dibuang ke berbagi tempat,” katanya.

Andi mengatakan menjadikan serbuk kayu sebagai wood pelet atau serbuk yang dipadatkan butuh alat tersendiri. “Tetapi kalau mau beli juga murah, sekilo harganya cuma Rp 1.500.  Bandingkan dengan solar subsidi harganya Rp 6.800/liter,” bandingnya.

Alat ini juga memungkinkan dilakukan pengaturan suhu dan lama pembakaran.  Sehingga penggunaan wood pelet bisa lebih irit sesuai kebutuhan.

“Ada timer-nya yang memungkinan pengaturan jumlah butir-butir wood pelet yang dibakar dan suhu yang kita inginkan bisa disesuaikan,” jelasnya.

Secara sederhana cara kerja alat ini dengan memasukan wood pelet ke dalam mesin. Di dalamnya ada reaktor yang akan membakar dan blower sebagai peningkat oksigen untuk memaksimalkan hasil pembakaran.

“Sehingga api yang dihasilkan bisa lebih maksimal, jika biasanya kita butuh 1 jam untuk pembakaran dengan alat ini bisa 30 menit sudah matang,” jelas pria asal Petemon, Pagutan, Kota Mataram ini.

Andi mengatakan, alat itu juga bisa digunakan bagi kebutuhan industri lain. “Di lingkungan saya berkembang industri Tahu dan Tempe untuk memasak, satu lokasi industri rumahan bisa menghabiskan satu mobil pick up kayu dalam seminggu,” ujarnya.

Sedangkan di Petemon, sebanyak 30 industri rumahan Tahu dan Tempe beroperasi. “Maka bisa dihitung seminggu ada 30 pick up kayu yang dibakar, itu baru di lingkungan saya. Belum lagi di lingkungan lain. Anda bisa bayangkan berapa pohon yang habis dibabat dan hutan gundul untuk memenuhi kebutuhan kayu bakar,” ujarnya.

Belum lagi bicara oven tembakau yang tersebar di daerah lain. Semua itu membutuhkan kayu-kayu hutan yang ditebang setiap kali masa panen tiba.

“Saya berharap alat ini bisa mengurangi ketergantungan pada kayu bakar yang pada akhirnya mencegah pembalakan liar yang tak terkendali. Semoga alat ini kelak berkontribusi sedikit mencegah datangnya bencana karena hutan dan gunung yang rusak,” harapnya. (*)

 

Editor : Hidayatul Wathoni
#limbah #einstein #aspal #Gus Baha #energi #Serbuk Kayu #minyak dunia #Mesin #lingkungan #Mataram #YouTube #Solar #BBM #hotmix #Inovasi