Curahan hati petani terkait segala permasalahan pertanian “dibayar lunas” dalam kunjungan kerja Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman di Desa Batujai, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah. Disana, Mentan Amran membagikan pupuk dan benih padi secara gratis.
--------
KABUT putih yang menyelimuti area persawahan perlahan-lahan menghilang. Seiring semakin naiknya matahari dari ufuk timur. Tampak diseberang kanan jalan, puluhan kursi berkain putih polos sudah berjajar rapi. Diiringi datangnya para petani dari Desa Batujai yang akan mengikuti gerakan tanam padi bersama bersama Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman yang masih dalam perjalanan.
Gerakan ini turut diramaikan dengan hadirnya para pejabat tinggi dari lingkup Pemprov NTB, Pemkab Loteng hingga jajaran Forkopimda. Satu per satu mobil pejabat yang didominasi warna hitam pun berdatangan. Mulai dari Polda NTB, Polres Loteng, Kodim 1620/Loteng, Pj Gubernur NTB, Bupati Loteng beserta jajarannya.
Mengobrol satu sama lain dilakukan sembari mengisi waktu datangnya Menteri Pertanian. Sementara panitia kegiatan tampak sibuk mempersiapkan perlengkapan yang akan dikenakan menteri. Mendengar iring-iringan mobil menteri segera tiba, para tamu undangan segera bersiap menyambut. Tak terkecuali beberapa petani yang sudah siap disawah untuk menanam bersama.
Menteri Amran pun tiba, didampingi Pj Gubernur NTB, Bupati Loteng dan Forkopimda langsung menuju lokasi gerakan tanam padi. Diatas panggung kayu berukuran dua kali tiga meter dibibir sawah, Mentan Amran pun berdiri dan memimpin para petani untuk bersama-sama menanam padi. Giat ini tidak berlangsung lama, mengingat keterbatasan waktu dan agenda yang cukup padat sebelum menuju kantor bupati.
Di atas panggung seberang jalan, Mentan Amran memberikan kesempatan terhadap para petani untuk menyampaikan keluh kesahnya. Seperti yang disampaikan petani bernama Danum dari Dusun Sorak, Desa Batujai. Tidak hanya persoalan kesulitan pupuk, petani juga terkendala dengan pengairan lahan pertanian. Padahal berada dekat dengan Bendungan Batujai.
“Bahkan ketika kami mau menyedot air dari saluran irigasi ini tidak boleh, dilarang oleh pekasihnya,” ungkapnya dihadapan Mentan Amran yang tampak serius mendengarkan.
Sementara jika mengandalkan sumur bor, untuk mendapatkan air tanah harus mengebor hingga kedalaman 100 meter. Mengingat lahan sawah disekitar desa adalah sawah tadah hujan.
“Kami mau pengatur air ini tidak melarang kami untuk mengambil air dengan cara memompa,” katanya.
Senada, petani lainnya Sumingah mengeluhkan hal serupa. Soal pupuk, dirinya mengaku kesulitan karean pupuk disebut langka. Untuk menebus pupuk cukup merepotkan serta diharuskan memiliki kelompok tani.
“Kami ingin seperti jaman Bapak Soeharto dulu, pupuk ada dimana-mana, tidak sulit ketika mau beli ke kios atau pengecer,” cetusnya.
Penjelasan pun disampaikan Mentan Amran, dirinya yakin ada kebijakan-kebijakan tertentu yang dilakukan pemerintah daerah terkait perairan. Sementara soal pupuk, Mentan Amran meyakinkan petani bahwa Presiden telah menambah pupuk subsidi hingga Rp 14 triliun. Berapa nantinya jatah atau kuota untuk NTB tentu menunggu hasil hitung-hitungan dari pemerintah daerah.
Usai mendapat penjelasan dan pengertian dari Mentan Amran, para petani yang maju ke atas panggung pun mendapat bantuan pupuk gratis hingga benih padi berkualitas yang dibawa rombongan kementerian. Senyum semringah pun terpancar disetiap wajah petani Desa Batujai. (*)
Editor : Kimda Farida