Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tradisi Warga Lombok Sambut Musim Haji, Warga Buat Kelansah, Tempat Zikir dan Doa Calon Jamaah

Lestari Dewi • Sabtu, 27 April 2024 | 07:30 WIB

 

Sejumlah warga bergotong royong membuat kelansah atau atap tenda dari daun kelapa yang dianyam untuk dipasang dirumah calon jamaah haji, di Dusun Embung Duduk, Desa Labulia, Kecamatan Jonggat, Loteng.
Sejumlah warga bergotong royong membuat kelansah atau atap tenda dari daun kelapa yang dianyam untuk dipasang dirumah calon jamaah haji, di Dusun Embung Duduk, Desa Labulia, Kecamatan Jonggat, Loteng.

Usai lebaran Idul Fitri 1445 Hijriah, ada pemandangan menarik di sejumlah rumah warga. Yakni, tradisi pembuatan kelansah yang dipasang di depan atau halaman rumah calon jamaah haji. Salah satunya di Dusun Embung Duduk, Desa Labulia, Kecamatan Jonggat.

-----------

TUMPUKAN pelepah daun kelapa mulai menggunung disudut rumah milik Syawal, warga dari Dusun Embung Duduk, Desa Labulia, Kecamatan Jonggat. Bukan tanpa sebab, dirinya akan membuat kelansah atau atap tradisional dari daun kelapa yang dianyam.

Ini merupakan tradisi yang terus dijaga masyarakat di pulau Lombok. Kelansah akan dipasang di depan atau halaman rumah milik calon jamaah haji. Pembuatannya pun dimulai usai lebaran Idul Fitri atau dua bulan sebelum pelaksanaan ibadah haji.

"Iya sudah mulai, dua bulan sebelum bulan haji," ucap Syawal pada Koran ini.

Bapak satu anak ini mengatakan, untuk pembuatan kelansah sendiri masyarakat mengerjakannya dengan cara bergotong royong. Untuk bahan kelansah sendiri hanya memerlukan dua bahan pokok, yakni bambu sebagai tiangnya dan daun kelapa sebagai atapnya.

Cara pembuatan kelansah yaitu bambu yang sudah diambil dari kebun kemudian dipotong masing-masing sepanjang lima meter sebagai tiangnya, sedangkan untuk daun proses penganyaman untuk dijadikan atapnya.

Selesai membuat kelansah, masyarakat juga membuat gempeng atau pagar dari bambu yang mengelilingi rumah calon jamaah haji. Pembuatan gempeng ini juga menandakan bahwa area yang dipasangkan gempeng merupakan penanda kediaman jamaah haji.

Biasanya warga setempat mengerjakan pembuatan tenda tradisional ini selama kurang lebih satu minggu, dengan ukuran menyesuaikan dengan halaman rumah milik calon jamaah haji.

"Paling lama sekitar seminggu, cuma yang paling lama itu hanya proses penganyaman daun kelapa sebagai atap," ungkap pria kelahiran 1991 ini.

Di bawah kelansah atau tenda tradisional inilah nanti para warga akan bersama-sama membacakan Al Barzanji dan doa dilakukan selama sembilan hari untuk keselamatan para jamaah haji jika sudah sampai di tanah suci Mekkah.

"Nanti selama sembilan hari akan diadakan doa bersama oleh masyarakat untuk keselamatan para jamaah haji," kata Syawal di sela-sela menganyam daun kelapa.

Membuat atap tenda dari anyaman daun kelapa ini, menurut Syawal dilakukan secara gotong royong merupakan salah satu upaya mempererat silaturahmi. Serta menjaga tradisi setiap pelaksanaan ibadah haji yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. (lestari dewi) 

Editor : Redaksi Lombok Post
#Lombok Tengah #Ibadah haji