Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Sopir Bus Pengantar JCH NTB Selama Bertugas, Banyak Merasakan Peristiwa Unik dan Mengharukan

Yuyun Kutari • Sabtu, 25 Mei 2024 | 12:53 WIB
SIAP BERANGKAT: Para JCH kloter 5 asal Lombok Tengah secara bergiliran masuk ke bus khusus pengantar haji menuju BIZAM dan selanjutnya terbang ke Arab Saudi, di Asrama Haji. (Yuyun/Lombok Post)
SIAP BERANGKAT: Para JCH kloter 5 asal Lombok Tengah secara bergiliran masuk ke bus khusus pengantar haji menuju BIZAM dan selanjutnya terbang ke Arab Saudi, di Asrama Haji. (Yuyun/Lombok Post)

LombokPost--Mengantar para tamu Allah SWT menuju bandara, memiliki cerita dan pengalaman tersendiri bagi sopir bus. Seperti apa? Berikut ulasannya.

Usai melaksanakan ibadah salat Jumat, Hadi dengan terburu-buru kembali ke bus.

Dia harus memastikan lagi segala hal yang berkaitan dengan pengantaran kloter 5 JCH asal Lombok Tengah (Loteng) menuju Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM).

“Periksa lagi tempat duduk mereka, cek-cek data, lihat keadaan bus, diskusi dan koordinasi sesama sopir dan lainnya, itu biasanya yang saya lakukan sebelum mengantar jamaah ke bandara,” ujarnya.

M Hadi K, nama lengkapnya.

Pria asal Jember, Jawa Timur (Jatim) memiliki pengalaman bertahun-tahun mengantarkan JCH menuju bandara.

Sebelumnya, ia ditugaskan di Embarkasi Surabaya.

Barulah di tahun 2022 sampai saat ini, ia ditugaskan perusahaan menjadi sopir pembantu untuk Embarkasi Lombok.

Selama melakoni pekerjaan tersebut, ia sudah banyak menjumpai dan merasakan kejadian unik. Banyak yang membekas diingatannya.

Misalnya ia selalu mendapati JCH yang merasa kebingungan ketika masuk bus.

“Bingung mau duduk dimana, padahal sudah ada kursi penumpang di depannya, terus juga mungkin bingung melihat kondisi di dalam bus, itu ada yang kita temui seperti itu,” kata dia.

Ia sangat memahami. Tidak semua JCH tinggal di daerah perkotaan.

Melihat berbagai macam bentuk kendaraan.

Ada juga mereka yang berasal dari desa-desa, yang selama hidupnya tidak pernah melihat bus pengantar sebesar itu, atau tidak pernah merasakan naik angkutan bus dengan model seperti itu.

“Jadi pada saat mereka akan berangkat haji, barulah mereka melihat ini semua, ya mungkin ada rasa tertegun gitu sambil bingung, kalau sudah gini kondisinya, kita jelasin pelan-pelan kalau bapak atau ibu sudah bisa duduk,” jelasnya.

Pengalaman unik lainnya, suami atau istri yang meronta-ronta ingin duduk di kursi bus saling bersebelahan.

Kepala Hadi pernah menjadi sasaran amukan dengan digeplak oleh salah seorang JCH lansia, karena selama keberangkatan menuju bandara, ia tidak duduk bersama sang istri.

Sebagai informasi, bus pengantar JCH memiliki 44 tempat duduk.

Ketika JCH mendapatkan nomor seat 45, jelas yang bersangkutan harus berangkat menggunakan bus berikutnya.

Biasanya kondisi ini kerap dialami oleh pasangan suami istri.

“Saya lupa-lupa ini kejadian di musim haji keberapa gitu, ada bapak yang kesal karena nggak bisa bareng istrinya di bus yang sama, kepala saya digeplak, padahal petugas haji sudah kasi tahu kalau nanti berangkatnya rombongan, dan ketemu semua di bandara, aduh itu saya ketawa kalau bahas lagi,” terangnya.

Namun, Hadi tidak ambil pusing dengan semua peristiwa unik yang di alami.

Menurutnya, itu sudah menjadi bagian dan risiko pekerjaan yang dijalani.

“Perbanyak ikhlas, sabar, dan Alhamdulillah semuanya fine-fine aja nih, saya bawa santai,” kata dia sambil tersenyum.

Selain peristiwa unik, dirinya juga sering mengalami kejadian yang mengesankan.

Setibanya di bandara, Hadi terharu ketika ada JCH terutama yang lansia mengucapkan terima kasih kepadanya.

“Ini basic manner sebenarnya, tapi menurut saya tetap istimewa karena yang ngucapinnya dari jamaah, apalagi yang ibu-ibu itu lembut bilang ke saya, jadi langsung keingat orang tua,” ujarnya.

Di sisi lain, ia pernah mengantar JCH yang selama perjalanan menuju bandara, mereka kompak melantunkan bacaan talbiyah.

Labbaika allahumma labbaik, Labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wan ni'mata laka wal mulk. Laa syariikalak.

“Nggak tahu kenapa, saya selalu merinding kalau dilantunkan ramai-ramai, padahal udah sering dengar, tapi tetap saja merasakan hal yang sama, Masya Allah ini salah satu momen yang selalu saya nantikan kalau ada tugas mengantar jamaah haji,” tandas Hadi.

Terpisah, Iwan, sopir bus pengantar JCH haji menuju bandara juga menuai pengalaman yang tidak jauh berbeda.

Sejak bertugas mengantar dan menjemput JCH khusus untuk pulau Lombok dari 2015, dirinya merasa bersemangat, senang dan bahagia.

“Walaupun saya tidak bisa berangkat berhaji. Ada kebahagiaan tersendiri, saya sangat merasa senang bisa mengantar mereka,” ujarnya.

Ada juga perasaan haru.

Ketika bus bersiap melaju menuju bandara, ia kerap menyaksikan momen keluarga JCH yang sudah berjam-jam menunggu keberangkatan di luar lingkungan asrama haji, mereka melambaikan tangan ke arah bus, sambil merapalkan doa agar selamat sampai tujuan, dan selamat hingga kembali ke tanah air, tidak kurang satu apapun. (YUYUN ERMA KUTARI)

 

 

 

Editor : Kimda Farida
#JCH NTB