UMAR WIRAHADI, Mataram
Aroma bumbu masakan langsung menguar begitu memasuki ruang dapur pukul 10.00 Wita, kemarin (20/10). Di sana sejumlah pramusaji sedang sibuk meracik masakan. Ada yang mengukus, memanggang serta menggoreng aneka menu bahan makanan. Aromanya benar-benar menggugah selera makan.
Di bagian depan dapur seorang pria sibuk meracik bumbu. Dia mengupas sejumlah buah alpukat lalu memasukkannya ke dalam wajan yang sudah berisi minyak goreng. Buat alpukat tadi digoreng bersama bahan bumbu yang lain. Seperti cabai hijau, daun limau, daun serai dan asam. Setelah digoreng sejenak, bahan-bahan itu dihaluskan ke dalam blender.
Setelah halus, bumbu tersebut lalu disiram secara merata ke cumi-cumi yang sudah dibakar lebih dulu. Nyessss. Masakan pun siap dihidangkan. "Nama menu ini cumi bakar sambal alpukat. Rasanya mantab," kata Muhammad Rukhi sang juru masak.
Menu itu diciptakannya karena terinspirasi ketika dia menjadi chef di Meksiko. Untuk menciptakan rasa khas nusantara Rukhi melakukan modifikasi dengan mencampurkan saya cabai rawit hijau, terasi, serai, dan daun limau.
"Saya sesuaikan dengan lidah warga lokal khususnya warga Lombok yang suka pedas. Kalau di Meksiko nggak ada terasi, serai dan daun limau," paparnya.
Selain cumi bakar sambal alpukat, ada juga menu lain yang terdengar asing di telinga. Yaitu daging bakar sambal kopi. Yang spesial dari menu ini terdapat pada bumbu sambal dengan bahan dasar bubuk kopi. Bubuk kopi dicampur lebih dulu dengan sambal terasi dan sedikit gula aren. Setelah itu bahan lain berupa cengkeh, kayu manis, dan ketumbar, ditumbuk sampai halus.
Bumbu itu pun disiram ke daging sapi yang sudah dibakar. Menu siap dihidangkan ke meja konsumen. Baik menu daging bakar sambal kopi dan cumi bakar sambal alpukat cukup banyak diminati pelanggan. Selain karena namanya yang juga karena cita rasa yang memanjakan lidah. "Awalnya banyak yang pesan karena coba-coba. Eh lama-lama ketagihan. Sekarang jadi menu favorit," tutur Rukhi lalu tertawa.
Dua menu tersebut adalah resep baru yang diciptakan sendiri Muhammad Rukhi. Masakan itu dihidangkan setiap hari di restoran miliknya di Resto Seleraku Asam Pedas yang tertelak di Jalan Panji Tilar, Sekarbela.
Selain daging bakar sambal kopi dan cumi bakar sambal alpukat, ada juga menu lain. Semua bumbu hasil racikan Rukhi sendiri. Sebagaimana ayam guling sambal jamur, udang jeruk sambal mangga, lalapan ayam pecak, dan beberapa menu lainnya. Yang juga menjadi menu favorit warga adalah nasi ayam Hainan khas Tiongkok. Ayam Hainan dihidangkan dengan cara dikukus dan dipanggang.
Menu ayam hainan memang punya keunikan rasa. Selain daging ayam yang empuk, citarasa khas terdapat pada kulit ayam yang crispy dan variabel sambal sebagai pelengkap. Ayam dikukus bersama aneka bumbu rempah agar meresap.
Ayam disajikan dengan garam rempah dipadukan dengan saos sambal tauco. Sebagai pelengkap agar makin maknyus, ayam bisa disiram dengan kuah sup hainan. Semua menu disajikan dengan jaminan halal.
Lombok Post sempat mencicipi menu ayam hainan ini. Tekstur daging ayamnya terasa empuk dengan bumbu rempah-rempah. Rasanya makin gurih dengan siraman berupa kuah kaldu. Sejumlah campuran rempah-rempah pada daging ayam meninggalkan cita rasa yang agak kecut dan pedas.
"Harga promo hanya Rp 16 ribu. Ini masakan restoran bintang lima tapi harga UMKM. Mahasiswa dan anak sekolah pun banyak yang beli ke sini," celetuknya lalu kembali tertawa.
Muhammad Rukhi adalah chef berpengalaman yang sudah keliling banyak negara. Dia mengawali karir profesional sebagai chef usai lulus dari The Shatec Institutes di Singapura tahun 1996. Lembaga itu sebelumnya bernama Singapore Hotel Association Training and Education Centre. Lembaga pendidikan ini banyak membekali industri perhotelan dengan tenaga kerja terampil. Termasuk bidang kuliner.
Nah, setelah lulus tahun 1996, Rukhi langsung bekerja sebagai chef di Singapura pada jaringan Hilton Worldwide Holdings Inc. Ini adalah perusahaan perhotelan multinasional yang bermarkas di Tysons, Virginia, Amerika Serikat. Dia bekerja di Singapura pada 1996-1998. Pada 1999 dia pindah ke Malaysia. Selanjutnya 1999-2002 pindah ke Australia.
Perjalanan Rukhi sengaja chef profesional terus berlanjut. Pada 2002-2003 berturut-turut di Tiongkok, India serta Amerika Serikat. Semuanya di jaringan Hotel Hilton Group. "Rata-rata saya dikontrak enam bulan. Lalu pindah-pindah negara. Tapi semuanya di jaringan hotel yang sama," tuturnya.
Berikutnya 2003-2008 dilanjutkan ke Meksiko, Karibia, Venezuela, Romania, Turki, London, Hongkong, Vietnam lalu kembali Amerika Serikat.
Kiprahnya terakhir terjadi pada periode 2008-2010. Ketika itu dia bekerja di Hotel Hilton Mekkah, Arab Saudi. Sebelumnya dia juga dikontrak di Hotel Hilton Dubai dan
Hilton Paris. "Alhamdulillah saya bekerja di jaringan Hotel Hilton selama 14 tahun. Bisa keliling dunia karena hobi memasak ini," tutur pria kelahiran 19 Juni 1975 itu.
Sebetulnya Muhammad Rukhi adalah perantauan asalnya Nongsa, Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Dia datang ke Lombok tahun 2010 usai bekerja keliling dunia sebagai chef. Kala itu dia datang berlibur ke Senggigi.
Kedatangan Rukhi ke Senggigi yang awalnya cuma liburan, memutuskan untuk membeli sebidang tanah dan mendirikan hotel di atasnya. Namanya River Side Villa berdiri sejak 2010 di Kerandangan.
Namun bisnis hotel yang dirintis Rukhi berakhir setelah bangunan ambruk akibat guncangan gempa yang melanda Pulau Lombok pada 2018. "Dulu saya punya hotel. Ada juga car rental dan fast boat rental company. Tapi setelah gempa ambruk semua," tutur ayah dua anak itu.
Kini dia kembali bergelut ke dunia kuliner yang membesarkan dirinya. Yaitu dengan mendirikan resto di Jalan Panji Tilar. Misinya, Rukhi ingin berbagi ke masyarakat Kota Mataram dengan menyajikan menu-menu kelas dunia dengan harga UMKM.
"Motivasi saya ingin berbagi saja. Dengan menu makanan enak yang berkelas tapi harga murah meriah," tandas ayah dari M.Haidan dan Nurul Madina itu. (*/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post