LombokPost-Pohon purba Lian di Desa Gunung Malang, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur (Lotim) menjadi salah satu destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan. Mulai dari wisatawan lokal hingga wisatawan mancanegara.
Supardi, Lombok Timur
PULUHAN pohon berukuran besar menjulang tinggi ke langit. Membuat suasana di sekitar menjadi rindang dan teduh. Tidak heran jika tempat ini banyak dimanfaatkan sebagai tempat singgah masyarakat yang hendak menuju ke wilayah Sambelia.
Pohon-pohon raksasa ini dikenal dengan nama Pohon Purba Lian oleh masyarakat sekitar dan wisatawan. Pohon ini diperkirakan sudah berumur sekitar 300-400 tahun. Pohon dengan nama latin Ficus Albipila ini cukup menarik wisatawan khususnya wisatawan mancanegara untuk berkunjung di tempat ini.
Handika Saputra, petugas jaga wisata Pohon Purba Lian menceritakan wisata pohon purba ini tidak pernah sepi pengunjung, baik lokal maupun mancanegara. Terlebih di hari Minggu dan libur panjang.
“Kalau wisatawan asing hampir setiap Minggu selalu ada yang datang ke tempat ini. Apalagi pada saat libur panjang, tingkat kunjungan dua kali lipat bahkan lebih,” terang Handika, Senin (4/11).
Pohon Purba yang tumbuh di lahan yang menjadi pos sarana asimilasi dan edukasi Lapas Kelas IIB Selong ini cukup menarik dan bagus untuk dijadikan spot foto. Selain ukurannya yang sangat besar, bentuknya yang menjulang dan batangnya yang besar menjadi daya terik sendiri bagi wisata pohon purba ini.
Konon ceritanya, pohon ini tidak bisa tumbuh di tempat lain. Bahkan jumlahnya pun tidak bisa bertambah. Meskipun benih yang tumbuh di sekitar pohon sangat banyak, namun uniknya tidak bisa besar.
“Bahkan pernah dicoba untuk ditanam di tempat lain namun tetap tidak bisa tumbuh. Jika bisa di tanam mungkin sudah banyak yang menanam, tapi nyatanya kan hanya di areal ini saja di bisa hidup, ”katanya.
Pohon purba Lian yang tumbuh di areal sekitar 14 hektare itu, berjumlah sekitar 30 pohon lebih. Pohon ini juga sangat tahan dengan cuaca ekstrem. Meski diterpa angin kencang, tidak pernah sampai tumbang.
Kata dia, kalaupun ada ranting yang patah, hanya ranting-ranting kering dan kecil. Kendati demikian wisata pohon purba ini akan ditutup sementara ketika cuaca ekstrem terjadi. Ini untuk mengantisipasi adanya hal-hal yang tidak diinginkan terjadi kepada wisatawan.
“Alhamdulillah selama ini tidak pernah ada kejadian sampai menimpa orang. Menurut cerita dari masyarakat, pohon ini kayak manusia, tidak akan menyakiti orang. Kalaupun ada ranting yang patah pasti dia jatuh pada saat orang sepi atau malam hari,” katanya.
Selain sangat unik dan bagus, tiket masuk ke wisata pohon purba ini juga cukup murah, dengan menghitung per kendaraan. Untuk sepeda motor tiket masuknya seharga Rp 5.000. Sementara untuk mobil pribadi sebesar Rp 10 ribu per kendaraan. Sedangkan untuk angkutan umum sebesar Rp 20 ribu per kendaraan.
Menariknya, tiket masuk itu tidak hanya berlaku untuk wisata pohon purba saja. Namun dengan membeli satu tiket pengunjung bisa menikmati dua destinasi wisata sekaligus. Yakni wisata pohon purba Lian dan Pantai Pengayoman.
“Masyarakat cukup beli satu tiket, bisa menikmati dua tempat wisata sekaligus. Baik wisata pohon purba atau Pantai Pengayoman,” terang pria asal Tanjung Luar ini.
Kedua tempat ini cukup rapi dan bersih. Dua destinasi ini dijaga oleh narapidana yang beberapa bulan akan bebas, sebagai pembinaan dan edukasi bagi warga binaan.
Setiap hari Minggu tingkat kunjungan mencapai 600 orang lebih, sedangkan hari-hari biasa berkisar antara 200-250 orang. Namun ketika libur panjang, seperti tahun baru, hari raya dan lainnya kunjungan meningkat dua sampai tiga kali lipat.
“Apalagi saat tahun baru, tempat ini full pengunjung. Sampai-sampai tidak kebagian tempat duduk,” katanya.
Selain pohon purba, pantai Pengayoman juga tidak kalah menariknya untuk dikunjungi. Selain tempatnya yang rindang, bersih dan tertata rapi. Pengunjung juga disuguhkan dengan pemandangan kapal fery yang sedang bersandar.
“Yang tidak kalah pentingnya memang pantainya yang bersih. Karena setiap hari kami bersihkan. Kalau wisatawan lokal lebih tertarik ke pantai,” Tandasnya. (*/r5)
Editor : Rury Anjas Andita