Kata "perang" identik dengan kekerasan, permusuhan, hingga pertumpahan darah yang menimbulkan korban jiwa.
Tapi "perang topat" yang berlangsung di Pura Lingsar, Desa Lingsar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, bisa mewujudkan perdamaian dan toleransi.
Inilah cara umat Islam dan Hindu merawat keberagaman.
-----------------------------
GEMURUH hujan yang mengguyur area Pura Lingsar sama sekali tidak menyurutkan antusiasme pengunjung pura, sore Minggu (15/12).
Semakin lama pengunjung kian berdesak-desakan. Mereka penasaran ingin melihat keseruan tradisi perang topat yang berlangsung di pura itu.
"Perang" antara umat Islam dan Hindu itu mulai berlangsung sekitar pukul 17.00 Wita.
Satu kelompok yang diisi umat Islam berada di bawah.
Sementara kelompok lain yang terdiri dari umat Hindu berada di ketinggian tembok. Mereka perang dengan senjata utama berupa topat.
Ratusan bahkan ribuan topat yang dibungkus daun kelapa muda berhamburan ke udara.
Benda itu dilempar oleh dua kubu yang saling berhadap-hadapan.
Seorang pemuda yang ada di bawah tembok tertawa girang karena lemparannya berhasil mengenai wajah seseorang.
Pria yang terkena lemparan di mukanya kembali membalas dengan lemparan serupa.
Lemparannya mengenai kepala pemuda yang lain. Bukannya marah, si pria itu justru tertawa lebar. "
Kalau di sini kita nggak boleh dendam. Bawa senang aja," kata Muhammad Ramdani, 17 tahun.
Siswa SMAN 1 Lingsar itu semakin bersemangat untuk membuat lemparan susulan. Kali ini dilakukan secara sporadis.
Lemparannya kontan mengenai beberapa umat Hindu yang berdiri di atas tembok.
Begitulah keseruan perang topat dengan senjata utama berupa topat berlangsung.
"Ayo saling jaga. Ini tradisi. Jangan ada yang menggunakan batu atau apapun selain topat," teriak petugas kepolisian melalui pengeras suara.
Perang topat itu berlangsung sekitar 30 menit. Setelah itu kepolisian memberi peringatan bahwa acara sudah selesai sekitar pukul 17.30.
"Ayo acara perang topat sudah selesai. Topat susah habis," teriak sumber suara.
Setelah perang berakhir, sejumlah pengunjung ramai-ramai memungut sisa lemparan ketupat. Mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak hingga anak-anak muda.
Sisa lemparan berupa topat dikumpulkan untuk dibawa pulang. Benda itu akan ditabur di sawah dan ladang masing-masing.
Tujuannya agar tanaman mereka tumbuh subur.
"Kepercayaan ini sudah berlangsung turun temurun. Leluhur kami juga begitu dulu. Kami berharap berkah dari Perang Topat," tutur Sumiati, 52 tahun, salah seorang warga.
Kepala Desa Lingsar Sahyan mengatakan total ada 10 ribu bungkus topat yang ditebar dalam event itu.
Topat itu dimasak warga dari 10 dusun di Desa Lingsar. Topat dimasak oleh warga dua hari sebelum event puncak petang topat berlangsung.
"Sebagian ada yang pakai dana kas dusun. Tapi banyak yang pakai dana pribadi. Karena warga juga berkepentingan dengan tradisi leluhur ini," tutur Sahyan.
Pelaksanaan perang topat menandakan rasa syukur warga. Karena musim hujan sudah tiba.
Artinya, mereka akan kembali bercocok tanam di sawah dan ladang masing-masing. Dengan tanaman yang subur itu mereka bisa memanen dengan hasil yang berlimpah.
"Jadi ini wujud kesyukuran warga. Perang Topat ini memang kami tunggu-tunggu tiap tahun," ungkap Sahyan.
Menariknya, perang topat tidak dibatasi pesertanya. Banyak yang datang dari berbagai daerah. Mulai dari Lombok Timur, Lombok Tengah dan Kota Mataram.
Dari pantauan Lombok Post juga banyak terlihat wisatawan asing yang memenuhi area itu. Mereka asyik menonton dan ikut merasakan sensasi perang dalam perdamaian itu.
Tradisi budaya itu juga disaksikan sejumlah pejabat penting. Seperti Penjabat (Pj) Gubernur NTB Hassanudin, Pj Bupati Lobar Ilham, Ketua DPRD Lobar Lalu Ivan Indaryadi, Pj Sekda Lobar Fauzan Husniadi.
Hadir juga Bupati Lobar terpilih Lalu Ahmad Zaini dan Wakil Bupati terpilih Nurul Adha.
Dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI diwakili Direktur Event Daerah Reza Fahlevi.
Pj Gubernur NTB Hassanudin dalam sambutannya sangat mengapreasi warisan leluhur itu.
Dikatakan, Perang Topat adalah satu-satunya perang yang tidak menimbulkan korban. Karena dilakukan menggunakan ketupat.
"Justru perang ini menghasilkan perdamaian dan keharmonisan," kata Hassanudin.
Disampaikan, warisan budaya tersebut merupakan bentuk nyata dari pelaksanaan semboyan Bhineka Tunggal Ika di bumi Nusantara.
Dia pun berharap kegiatan ini dapat terus didukung oleh pemerintah pusat.
"Kegiatan ini memiliki nilai dan makna yang tinggi untuk menguatkan toleransi dan kebersamaan" paparnya.
Pj Bupati Lobar Ilham menambahkan event perang topat adalah warisan budaya luhur yang memiliki nilai budaya yang sangat tinggi.
Dia bilang perang topat mengajarkan masyarakat untuk terus menjunjung tinggi toleransi dan harmoni antar umat beragama.
"Perang topat ini adalah warisan budaya luhur. Kita diwariskan nilai toleransi dan harmoni yang akan memperkokoh persatuan dan kesatuan. Semuanya ada di Lombok Barat," jelas Ilham.
Direktur Event Daerah Kementerian Pariwisata Reza Fahlevi dalam event itu juga menyerahkan piagam penghargaan. Yaitu memasukkan agenda perang topat dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) 2024.
Tradisi itu sudah masuk KEN dua tahun berturut-turut sejak 2023.
Perang Topat juga sudah masuk sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) yang diakui secara nasional sejak 2020.
"Kementerian Pariwisata mendukung penuh event ini. Bahkan Perang Topat jadi salah satu andalan nasional dalam mendatangkan wisatawan asing ke NTB," jelas Reza Fahlevi.
Budayawan Lombok Mamiq Sahnan menyampaikan kegiatan Perang Topat memiliki waktu tertentu.
Biasanya dilaksanakan setiap tahun pada bulan Purnama Sasih ke Pituq menurut warige (kalender) Sasak.
Kegiatan turun-temurun menunjukkan sikap hormat dan kesetiaan kepada Raden atau Datu Sumilir, penyebar Islam di Lombok.
Perang Topat juga dilaksanakan selepas waktu salat Asar. Itu bertepatan dengan selesainya persembahyangan umat Hindu.
"Kami warga Sasak menyebut waktu itu dengan sebutan raraq kembang waru atau saat bergugurannya kembang waru sekitar pukul 17.00 Wita. Saat itulah Perang Topat dimulai," tutur Mamiq Sahnan. (Umar Wirahadi/r5)
Editor : Kimda Farida