Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Melihat Prosesi Nyeleng Minyak Seribu Hajat di Ponpes Tohir Yasin Lendang Nangka, Lombok Timur

Supardi/Bapak Qila • Senin, 6 Januari 2025 | 19:00 WIB

 

BAKAR: TGH Ismail Tohir Pimpinan Pondok Pesantren Salaf Modern (PPSM) Tohir Yasin Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik saat membakar daun kelapa kering untuk memulai proses nyeleng minyak.
BAKAR: TGH Ismail Tohir Pimpinan Pondok Pesantren Salaf Modern (PPSM) Tohir Yasin Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik saat membakar daun kelapa kering untuk memulai proses nyeleng minyak.
  

Pondok pesantren (Ponpes) Tohir Yasin di Lendang Nangka memiliki event menarik. Hanya dilakukan sekali dalam satu tahun, yakni Nyeleng (Membuat) Obat Seribu Hajat. Berikut ulasannya.

-------------

Azan Magrib baru selesai dikumandangkan dari masjid di lingkungan Pondok Pesantren Salaf Modern (PPSM) Tohir Yasin. Anak-anak hingga orang tua bergegas memadati areal masjid hingga lapangan Pondok Pesantren (Ponpes), untuk menunaikan kewajiban Salat Magrib yang dilanjutkan dengan pengajian umum, zikir dan doa.

Lingkungan PPSM Tohir Yasin terlihat dipadati manusia. Mereka datang dari berbagai daerah, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, hingga Papua. Kedatangan mereka untuk mengikuti acara haul TGH Tohir Yasin ke-35 tahun, sekaligus melihat proses Nyeleng Minyak Seribu Hajat.

Ketua panitia Nyeleng Minyak Lalu Muhammad Isnaini mengatakan, puncak acara ini dilakukan pada malam Jumat pertama di Bulan Rajab. Pembuatan minyak dilakukan secara berkelompok, dengan jumlah masing-masing kelompok maksimal 25 orang.  

Minyak seribu hajat dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit serta mendatangkan ketenangan jiwa dan raga. Tergantung niat dan hajat yang menggunakannya. Minyak ini tidak bisa digunakan dengan niat tidak baik.

Proses Nyeleng Minyak Seribu Hajat cukup rumit dan harus mengikuti berbagai syarat yang telah ditentukan. Salah satunya perempuan tidak boleh terlibat. Meskipun hanya sekadar masuk ke area pembuatan minyak. Ini dipercaya bisa menghambat proses pembuatan minyak. Bahkan minyak yang dihasilkan tidak akan berkhasiat atau gagal.

”Tidak bisa dilakukan oleh perempuan. Itu salah satu syaratnya,” imbuhnya.

Selain hanya boleh dilakukan laki-laki, pembuatan minyak ini juga harus menggunakan alat tradisional. Seperti memarut kelapa tidak boleh menggunakan mesin, memasak santan harus menggunakan tungku kayu bakar. Kemudian kelapa yang digunakan harus kelapa hijau berjumlah 44 atau 99 buah untuk satu kelompok.

Syarat lainnya, masing-masing orang yang terlibat dalam proses Nyeleng Minyak harus dalam keadaan suci atau air wudunya tidak boleh batal. Kemudian selama proses memasaknya, diiringi doa dan zikir. Bahkan sebelum memulai diawali dengan membaca Surat Yasin, Al-Mulk, Ad-Dukhan dan As-Sajadah.

”Setelah itu, tengah malam sekitar pukul 01.00 Wita, tuan guru akan keliling ke masing-masing kelompok, untuk menaburkan rempah-rempah sebagai campuran santan yang akan menjadi minyak itu. Di sana juga nanti akan diberikan doa dan zikir khusus oleh tuan guru,” jelasnya.

Proses memasak santan cukup lama, hampir 24 jam. Bahkan berdasarkan cerita yang berkembang, proses memasak ini tergantung dengan kondisi hati seseorang. Jika ada niat kurang baik dalam hati saat proses pembuatan minyak, akan memakan waktu cukup lama.

Isnaini mengatakan, setelah jadi, minyak dibagikan ke tiap-tiap orang di kelompok menggunakan botol kecil. Sebab minyak ini tidak diperjualbelikan. ”Orang yang sudah tahu khasiat minyak pasti setiap tahun datang, meskipun dari luar NTB. Bahkan ada yang dari luar NTB rutin datang setiap tahun,” tandasnya. (SUPARDI/r11)

Editor : Rury Anjas Andita
#event #Ponpes #minyak #tahunan #pesantren #hajat #seribu #Lotim #obat #pondok