Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Napak Tilas Sejarah Makam Jendral Belanda PPH Van Ham di Kota Mataram-Lombok (3-Habis)

Lalu Mohammad Zaenudin • Senin, 13 Januari 2025 | 17:10 WIB

 

DETAIL: Lebih dekat pada makam Jendral Van Ham di dekat Pure Karang Jangkong, Cakranegara, Kota Mataram.
DETAIL: Lebih dekat pada makam Jendral Van Ham di dekat Pure Karang Jangkong, Cakranegara, Kota Mataram.
 

Ketika perang pecah di Cakranegara pada 25 Agustus 1894, perang juga berkecamuk di desa Gelogor.

Perang ini konon merenggut nyawa Letnan Dua LG Musquiter yang merupakan menantu Jendral Van Ham.

-----------

LombokPost--Kisah ini dimulai dengan sekumpulan pria yang tengah bermain kartu dan pesta anggur di suatu malam.

Mereka adalah para tentara di bawah pimpinan Letnan Kolonel Van Bijlevet yang bertugas di Sukarara, Lombok Tengah. 

“Mereka baru beristirahat pada pukul 11.30,” seperti yang ditulis  Muhammad Idrus Emzet dari Lombok Heritage Society, mengutip buku De Lombok Expeditie karya Wouter Cool, terbitan Batavia 1896.

Namun baru saja hendak rebahan, seorang pria tergopoh-gopoh datang menemui. Pria yang dikenal para tentara itu sebagai seorang mata-mata.

“(Mata-mata itu membawa pesan) panglima memerintah mereka untuk segera ke Ampenan,” lanjutnya.

Keesokan paginya, sekitar pukul 9 pagi mereka baru berangkat. Namun baru tiba di Kediri sekitar pukul 1 siang.

“Perjalanan mereka lambat karena sehari sebelumnya mereka letih oleh kegiatan marching tentara,” tuturnya.

Belum lagi harus berjalan dalam iringan rombongan yang besar. Tidak mudah membuat iringan tetap menyatu karena rombongan terdiri atas Kompi 1 dan Kompi 3 dari Batalion 6, ditambah satu seksi artileri pegunungan, satu seksi zeni, kereta persenjataan, ambulans, seorang surveyor militer, dan 4 orang tentara kavaleri.

“Setiba di Kediri mereka mendengar berbagai suara tembakan dari kejauhan,” tambahnya.

Baca Juga: Program Pemerintah Intervensi Kemiskinan Ekstrem Disesuaikan Kebutuhan

Mereka baru tahu suara tembakan itu berasal dari arah Cakranegara setelah warga yang mereka temui menceritakan apa yang terjadi. Penuturan warga runut sejak perang mulai pecah semalam.

“Kemudian pada pukul 2 siang, pasukan telah berada hanya beberapa ratus meter dari Sungai Babak,” lanjutnya.

Mereka tiba di desa Gelogor dan menyusuri gang kampung yang sempit.

Namun tembakan tiba-tiba memberondong dari arah sebuah masjid yang dikelilingi tembok dengan pintu gerbang kokoh.

“Letnan Kolonel van Bijlevelt, sang komandan, adalah orang pertama yang tertembak dan terluka parah,” tulisnya.

Komando segera diambil alih Kapten Creutz Lechleitner yang memerintahkan membalas serangan. Seketika itu juga ribuan peluru menghujani para penyerang yang berlindung di balik tembok masjid.

Tembok masjid berhasil dirobohkan menggunakan zeni. Letnan van Kappen dan Musquetier segera memasuki masjid bersama pasukan.

“Ketika Musquetier mengejar penyerang ke ruangan sebelah, sebuah peluru menembus dadanya. Letnan Dua Musquetier tewas di masjid itu,” tuturnya.

Tertembaknya Musquetier membuat para tentara semakin beringas. Mereka bergerak maju namun sempat tertahan karena di depan mereka ada sungai selebar 60 meter.

“(Usai berhasil melintasi sungai) pasukan terus bergerak melewati jalan sempit yang dibatasi oleh belukar lebat yang dibaliknya terdapat gubuk-gubuk tanah maupun rumah batu yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan serangan,” paparnya.

Di tempat ini belasan pasukan Belanda tewas. “Dan lebih dari 3o yang terluka,” jelasnya.

Detail pasukan yang tewas tertulis dalam Bataviaasch Nieuwsblad edisi 05-11-1894 dan Het Nieuws van Den Dag: Kleine Courant edisi 07-12-1894, Haagsche Courant edisi 24-10-1894, Soerabaijasch Handelsblad edisi 29-11-1894, Bataviaasch Nieuwsblad edisi 03-12-1894, De Lombok Expeditie.

“Setelah menyeberangi beberapa sungai kecil, Kampung Labuapi dan persawahan terbuka akhirnya pasukan tiba di Selatan Cakranegara,” lanjutnya.

Selanjutnya pertempuran demi pertempuran dilalui pasukan ini. Antara lain pukul 5 sore di Cakranegara, setelah itu peperangan pun berlanjut saat akan ke arah Mataram.

“Jam 8 malam mereka tiba di sawah bekas bivak pasukan di Karang Jangkong. Alih-alih teman, malah musuh yang ditemui di sana,” terangnya.

Sesaat kemudian mereka mendengar suara morse dari Batalion 6 yang datang dari Pura Dalam Karang Jangkong. Mereka segera bergerak mendekat ke batalion induknya.

“Dan disambut dengan rasa syukur dan takjub karena mereka berhasil tiba,” tulisnya.

Keesokan harinya mereka bersiap mundur ke Ampenan. “Dalam kesedihan dan keheningan mereka mengubur jenazah Jenderal van Ham, Letnan Musquitier, dan anggota pasukan lainnya yang tewas. Mereka diistirahatkan dengan damai di bawah pohon beringin besar yang menaunginya,” jelasnya. (Lalu Mohammad Zaenuddin/r3)

Editor : Kimda Farida
#desa #pimpinan #konon ada kuda putih #Jendral #rebahan #perang #Lombok