Bukit Kayangan salah satu tempat yang kerap dikunjungi masyarakat untuk ngabuburit sembari menunggu waktu berbuka puasa di Lombok Timur (Lotim).
Bukit Kayangan menawarkan panorama kombinasi laut dan gunung sehingga punya daya tarik tersendiri.
-----------------------
Kendaraan di sepanjang jalan raya Labuhan Lombok-Mataram sore itu cukup ramai.
Sejumlah pengendara roda dua terlihat terparkir di pinggir jalan penyeberangan kapal cepat menuju Pulau Sumbawa.
Mereka duduk di atas motor sembari memandang laut dengan background bukit dan Gunung Rinjani.
Beberapa orang lainnya memilih untuk keliling menyisir pantai sepanjang jalan Labuhan Lombok.
Kemudian beberapa kelompok lagi memilih naik ke Taman Bukit Kayangan untuk menikmati pemandangan dari ketinggian.
Ya, Bukit Kayangan merupakan salah satu destinasi wisata di Lotim yang berada di barat Selat Alas.
Dari ketinggian Bukit Kayangan, pengunjung dapat menikmati pemandangan yang menakjubkan yakni kombinasi laut dan gunung.
Selain itu, pengunjung bisa menyaksikan lalu lintas kapal penyeberangan yang menghubungkan dua pulau di NTB, yakni Lombok dan Sumbawa.
Di sekitarnya ada beberapa warung yang menawarkan menu seofood.
Ikan dan bahan lautnya dijamin masih segar karena didampatkan dari nelayan sekitar.
Jadi setelah saat ngabuburit juga bisa langsung mencari tempat untuk berbuka puasa.
Namun sayang, destinasi ini sejak pertengahan 2023-2024 sepi pengunjung.
Setelah beberapa bulan ditetapkan sebagai destinasi wisata yang masuk dalam 75 Anugerah Desa Wisata (ADW) 2023 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno.
“Karena pada tahun 2023-2024 Bukit Kayangan terdampak kemarau panjang. Sehingga menyebabkan rumput di Bukit Kayangan terbakar, karena cuaca yang terlalu panas,” terang Ketua Pengelola Bukit Kayangan Abdul Haris Munandar kepada Lombok Post, Sabtu (8/3).
Kemarau panjang yang melanda wilayah Lotim mengakibatkan Bukit Kayangan setiap tahun terbakar. Terlebih jenis rumput yang tumbuh di Bukit kKyangan memang mudah terbakar, karena mengandung minyak.
Kendala lainnya ialah, air PDAM tidak bisa naik ke atas bukit. Sehingga tidak maksimal untuk menyiram bukit saat kemarau tiba.
Menurut dia, jika Bukit Kayangan disiram maksimal saat musim kemarau, rumput yang tumbuh akan menguning. Sehingga sangat indah dan mempercantik tampilan bukit kayangan.
“Karena air PDAM tidak bisa naik. Kami memakai dua mesin, baru bisa naik, itu pun tidak maksimal di saat musim kemarau, makanya Bukit Kayangan tidak terurus,” terangnya.
Sejak itu, Bukit Kayangan hanya menjadi bukit yang kering kerontang.
Kemudian sejumlah fasilitas terlihat tidak terurus. Dua penginapan yang ada di bukit kayangan juga sudah mulai kosong. Pun dengan fasilitas pendukung lainnya.
Pada akhir tahun 2024 atau semenjak Lotim diguyur hujan, Bukit Kayangan mulai menghijau dan menjadi ladang Savana yang subur.
Sehingga pengelola dan pemerintah desa (Pemdes) Labuhan Lombok berinisiatif membuat event untuk membangkitkan Bukit Kayangan lagi.
“Pada akhir Desember itu kita buat event, kita undang artis-artis Lombok, kemudian para UMKM kita berikan modal untuk menjual jajanan tradisional di Bukit Kayangan,” ungkapnya.
Setelah event tersebut, sejumlah wisatawan datang untuk camping. Kemudian saat itu mereka mengabadikan moment camping mereka dengan pemandangan menakjubkan. Di sebelah timur memberikan pemandangan Sunrise yang indah dan di sebelah barat terlihat gagahnya Gunung Rinjani.
Sejak itu video tersebut viral di TikTok dan beberapa media sosial lainnya.
Sehingga sejak itu pengunjung di Bukit Kayangan melonjak. Rata-rata setiap hari Minggu tingkat kunjungan mencapai 200-300 kendaraan.
“Bahkan sejak itu ada beberapa pedagang juga mulai naik lagi berjualan. Alhamdulillah sejak awal tahun 2025 kunjungan semakin meningkat,” katanya.
Pada bulan Ramadan ini pengunjung ke Bukit Kayangan kembali berkurang.
Hanya beberapa orang yang datang untuk sekedar ngabuburit sembari menunggu azan magrib dan berfoto-foto bersama keluarga.
Kondisi Bukit Kayangan saat ini, salah satunya disebabkan oleh kontrak pengelolaan yang akan berakhir dengan Pemkab Lotim.
Dan perjanjian Kerja Sama (PKS) yang baru tidak kunjung keluar, sehingga membuat pengelolaan belum bisa berbuat maksimal.
“PKS kita berakhir pada akhir Maret ini, sehingga itu yang menjadi kendala teman-teman pengelola untuk berbuat. Karena PKS yang baru tidak kunjung diperpanjang,” beber pria yang akrab di sapa Bang Binggor ini.
Dirinya berharap PKS tersebut bisa segera dikeluarkan oleh Pemkab Lotim. Sehingga bukit kayangan bisa dikelola dan ditata kembali.
Bahkan pengelolaan juga sudah menyiapkan rencana untuk membangkitkan Bukit Kayangan lagi, terlebih kondisi kayangan saat ini sudah mulai subur.
“Mudah-mudahan pertengahan Maret bisa keluar sehingga selesai puasa kami bisa action. Kami juga sudah menyiapkan beberapa rencana,”pungkasnya. (Supardi/r3)
Editor : Kimda Farida