Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Di Balik Trend Jogging di Mataram, Antara Detak Jantung, Gaya Hidup, dan Panggung Sosial

Redaksi Lombok Post • Rabu, 21 Mei 2025 | 05:00 WIB

Sejumlah ibu-ibu sedang jogging di Taman Udayana, Kota Mataram. Untuk menambah semangat, biasanya jogging dilakukan secara berkelompok.
Sejumlah ibu-ibu sedang jogging di Taman Udayana, Kota Mataram. Untuk menambah semangat, biasanya jogging dilakukan secara berkelompok.
Kini olahraga sudah menjadi gaya hidup masyarakat. Salah satu olahraga yang kian diganduringi adalah jogging. Namun jogging di zaman ini bukan sekadar aktivitas fisik, tapi juga aktivitas visual.

 

---------------------

 

PUKUL 07.30 Wita. Mentari belum terlalu tinggi ketika derap kaki mulai terdengar di jalur berpaving Ruang Terbuka Hijau (RTH) Udayana, salah satu paru-paru kota yang sejak beberapa tahun terakhir menjelma jadi titik temu antara detak jantung dan detak zaman.

Di sinilah berbagai wajah kota bertemu: mahasiswa yang ingin memulihkan energi batin, emak-emak yang melawan usia meski “sudah dua kali turun mesin”, sampai para influencer yang mencari cahaya pagi terbaik demi unggahan penuh likes.

Ada yang datang dengan niat lurus untuk sehat, ada pula yang membawa motif lain: eksistensi, jejaring sosial, bahkan endorsement.

Tapi semua menyatu dalam ritme yang sama. Satu-dua, satu-dua, napas dan langkah bersaing dengan tempo musik yang sesekali keluar dari headphone.

Sambil jalan santai, koran ini mengajak berbincang seorang pemuda. Namanya Lukman, 24 tahun, mahasiswa tingkat akhir Universitas Mataram.

Dengan kaos hitam polos dan sepatu olahraga yang mulai usang, ia bukan tipe pelari yang datang demi estetika. Tapi ia tahu: tempat ini menyembuhkan. “Awalnya karena habis putus cinta sih,” katanya sambil tertawa ringan, Rabu (14/5).

Tapi siapa sangka petaka hati itu malah membuatnya ketagihan untuk merasakan badan semakin segar dan kaya stamina. “Tapi lama-lama sadar, jogging bikin lebih tenang. Stres skripsi jadi gak meledak,” imbuhnya.

Menurutnya, joging secara harfiah telah membawanya pada kesempatan yang lebih intens untuk menata ulang hidupnya. Hidup yang lebih panjang dan penuh gairah.

Lukman bercerita bagaimana awalnya ia merasa minder jogging di RTH Udayana. “Yang datang ke sini kece-kece. Outfit mereka keren, sepatu mahal. Aku sempat mikir, ini taman olahraga atau taman fashion?” kelakarnya.

Namun, seiring waktu ia menyadari niat bisa tetap tulus meski dibalut gaya. “Toh mereka lari juga. Keringetan juga. Ya sudahlah, yang penting aku juga bergerak,” imbuhnya santai.

Di jalur sebelah timur, dua perempuan muda terlihat berlari sambil tertawa kecil. Mengenakan hoodie terang dan sport skirt senada, mereka terlihat seperti duo karakter dalam film laga Korea Selatan.

Kamera ponsel sesekali terangkat, mengambil potret mid-run yang tak terlihat lelah sedikit pun. Salah satunya bernama Arin Yufi.

“Supaya berkeringat dengan maksimal,” jawabnya melempar senyum dengan langkah cepat yang sulit terkejar koran ini. Itu jawab singkatnya tentang outfit yang dikenakannya.

Namun, di balik senyum itu, terselip kejujuran anak kota. Jogging di zaman ini bukan sekadar aktivitas fisik, tapi juga aktivitas visual.

Ia menuntut modal. Setidaknya, modal gaya dan rasa percaya diri. Tapi justru di situlah tarikannya— kesehatan dan keindahan kini bisa berjalan bersisian, saling memperkuat.

Tidak jauh dari spot selfie favorit di tengah taman, terlihat seorang perempuan mengenakan pakaian bergradasi fuchsia. Ia tersenyum lebar sambil mengacungkan dua jari, pose damai khas yang disukai algoritma Instagram.

Dialah Tika, salah satu pengguna aktif media sosial yang menjadikan RTH Udayana sebagai lokasi langganan untuk konten bergaya hidup sehat.

“Tiba-tiba di Taman Udayana,” ucapnya dengan nada bercanda saat ditanya alasan mengapa memilih taman tengah kota ini.

Setelahnya ia kembali sibuk mengambil banyak gambar. Seorang rekannya, dengan setia mengambil berbagai angle foto. Walau akhirnya lebih banyak yang dihapus.

Tika menjawab seperlunya setiap pertanyaan. Salah satunya, bahwa ia perlu foto itu sebagai ‘laporan’ ke komunitas lari yang diikutinya.

“Kita saling info, spot jogging yang oke,” ucapnya kembali fokus ambil gaya.

Dunia jogging kini, memang punya komunitas dan atmosfer sendiri. Para pelari bukan lagi individu yang asing, tapi jaringan yang saling terhubung—secara nyata maupun digital.

Bagi Tika dan banyak pelari kota lainnya, jogging adalah paket lengkap: sehat, stylish, dan berdaya.

Brand lokal kini kerap menggaet pelari dengan pengikut media sosial untuk mempromosikan sportwear atau produk minuman elektrolit. Dan Taman Kota menjadi studio gratis yang estetik dan hijau.

Namun, daya tarik RTH Udayana bukan hanya untuk mereka yang masih muda atau sedang naik daun. Di antara pepohonan rindang dan jalur berkelok, hadir pula Diana, seorang ibu muda yang tidak mau kalah dengan usia.

“Usahakan tetap terlihat gadis,” kelakarnya, sembari berjalan cepat sambil merekam dirinya dalam video.

Dengan outfit serba hitam dan kacamata tebal, ia tak malu menampilkan dirinya apa adanya. Dalam setiap langkahnya, ada pesan kuat: menjadi ibu bukan berarti berhenti merawat diri. Jogging menjadi bentuk perlawanan terhadap stagnasi dan keletihan rumah tangga.

“Jangan kalah sama umur,” menanggapi celetukan koran ini saat memberinya semangat untuk terus berlari-lari kecil.

Apa yang terjadi di RTH Udayana adalah gambaran kecil tentang bagaimana masyarakat kota menata ulang relasi mereka dengan tubuh, ruang publik, dan media sosial. Jogging bukan sekadar bergerak, tapi juga membentuk citra.

Ia bisa berarti penyembuhan, pencitraan, atau sekadar perayaan tubuh yang masih mampu bergerak. Dan taman kota menjadi panggung tempat semua itu berbaur.

Mereka yang mengejar kesehatan dan mereka yang mengejar konten, mereka yang baru bangkit dari luka dan mereka yang merayakan pencapaian kecil, termasuk yang hanya sekadar FOMO: semua berada di jalur yang sama.

Bagi warga Mataram, RTH Udayana bukan lagi sekadar jalur jogging. Ia ruang transisi—antara semalam yang berat dan pagi yang baru, antara usia muda dan usia matang, antara citra dan kejujuran. Ini adalah tempat orang kota berhenti sejenak dari kecepatan dunia, lalu memilih untuk bergerak atas kehendaknya sendiri.

Dalam dunia yang makin digital, mungkin jogging adalah satu dari sedikit aktivitas yang tetap menuntut napas nyata. Dan RTH Udayana memberi ruang untuk itu.

Ruang untuk bergerak, untuk sembuh, untuk bergaya, dan mungkin untuk kembali merasa hidup. (zad/r3)

 

Editor : Redaksi Lombok Post
#Kota Mataram #lari #jogging #Udayana #olahraga #gaya hidup