Di sebuah dusun kecil di Lombok Timur, gendang beleq kembali berdentum. Bukan karena upacara adat, melainkan karena semangat seorang anak muda yang ingin budaya leluhur tak hilang ditelan zaman.
-------------------------------
Suara musik tradisional kembali terdengar dari perkampungan kecil di utara Lombok Timur (Lotim). Alunannya membawa semangat baru bagi penduduk yang sudah lama merindukan kesenian itu, terutama para tetua desa.
Musik tradisional Lombok yang dulu hanya hadir saat acara adat, kini kembali hidup di Dusun Kayu Lian, Desa Pringgajurang, Kecamatan Montong Gading. Semua berawal dari tekad seorang perempuan muda bernama Liana, pendiri Gendang Beleq Putri Naga Dusun Kayu Lian.
Liana mengisahkan, keinginannya menghidupkan kembali gendang beleq berawal dari rasa gelisah saat pulang ke Lombok. Ia merasa lebih betah di luar negeri dibanding kampung halaman. Namun karena lahir dan besar di Lombok, ia mencari cara agar bisa mencintai tanah kelahirannya.
“Dari sana saya berpikir apa yang saya bisa saya lakukan agar bisa betah. Hingga saya memutuskan untuk menghidupkan kembali gendang beleq dengan membentuk sebuah kelompok kesenian gendang beleq. Dan semenjak ada gendang beleq ini, saya merasa betah, kayak ada kehidupan lagi,” terang Liana, Senin (1/9).
Ia memang menyukai seni dan hiburan. Lombok yang kaya adat budaya menurutnya layak dijaga agar tidak punah. Dari situlah tekad perempuan kelahiran 5 Februari 2000 itu muncul untuk menghidupkan kembali gendang beleq yang mulai ditinggalkan, terutama oleh anak-anak muda.
“Saya ingin kesenian ini hidup lagi di kampung saya dan saya ingin masyarakat bisa terhibur dan saya sendiri juga,” ucapnya.
Namun jalan itu tidak mudah. Membentuk kelompok seni menghadirkan banyak tantangan. Dari keterbatasan dana, sulitnya mendapatkan peralatan, hingga minimnya dukungan keluarga.
“Mengumpulkan alat itu luar biasa susahnya. Tempat belinya beda-beda. Ada yang dari Bali, ada yang dari Lombok. Karena saya ingin alat musik ini yang terbaik,” katanya.
Baca Juga: Viral Nyongkolan Pengantin Sultan Lombok, Diiringi 10 Gendang Beleq, Mahar Nikahnya Rp 500 Juta
Tantangan lain datang dari stigma masyarakat. Gendang beleq selama ini identik dengan laki-laki. Namun pandangan itu tak menggoyahkan tekad Liana. Bahkan sebelum mantap memilih jalan ini, ia rela menanggalkan berbagai bisnis yang sudah dijalankan bertahun-tahun, mulai dari usaha parfum, ekspor barang, hingga berdagang buah.
“Saya sempat punya brand parfum sendiri, tapi sekarang saya tunda dulu. Saya ingin fokus dulu untuk menghidupkan kembali gendang beleq ini,” jelasnya.
Meski langkahnya tidak mendapat restu keluarga, Liana tetap yakin. Ia percaya perjuangannya akan membuahkan hasil dan memberi inspirasi bagi banyak orang, terutama perempuan muda Lombok.
Ia menegaskan, tujuannya sederhana: menjaga budaya Sasak agar tetap eksis dan tidak terkikis zaman. “Budaya adalah identitas sebuah bangsa,” tegasnya.
Keyakinan itu membawanya mendirikan kelompok musik Gendang Beleq Putri Naga, nama yang ia ambil dari tahun kelahirannya, tahun naga menurut penanggalan Cina.
“Dari situ saya merasa ada kekuatan. Saya ingin buktikan kalau perempuan juga bisa memainkan peran besar dalam melestarikan budaya,” ucapnya dengan penuh keyakinan.
Kini Gendang Beleq Putri Naga dikenal luas. Mereka kerap tampil memenuhi undangan hingga pelosok Pulau Lombok. Meski begitu, Liana masih menyimpan mimpi lebih besar. Ia ingin kelompoknya bisa tampil menyambut tamu-tamu penting negara saat berkunjung ke Lombok.
“Siapa tahu suatu saat ada bapak Presiden datang ke sini, kita bisa sambut dengan gendang beleq. Saya ingin Gendang Beleq Putri Naga ini jadi wajah budaya Sasak yang bisa dibanggakan dan lebih dikenal,” tutupnya. (*/r7)
Editor : Redaksi Lombok Post