LombokPost - Sebanyak 94 murid SDN 05 Batang Anai, Padang Pariaman, mengikuti ujian di halaman sekolah mereka yang ambruk setelah diterjang galodo. Bahkan untuk menuju sekolah pun para siswa menghadapi tantangan tak mudah karena akses yang rusak. Hanya Perpustakaan yang Bertahan
GALODO atau banjir yang bercampur lumpur dan batu telah mengambrukkan semua bangunan SDN 05 Batang Anai, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Sisa-sisa air bah juga membuat lokasi sekolah di Nagari Sungai Buluah Timur itu masih becek.
Namun, yang ambruk hanya bangunan. Semangat anak-anak yang menuntut ilmu di sekolah tersebut tetap tegak. Mereka dengan antusias mengikuti ujian akhir semester mulai Senin (8/12) dalam segala keterbatasan.
Tak ada ruang kelas, mereka mengerjakan soal-soal di bawah tenda darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Padang Ekspres Grup Jawa Pos melaporkan bahwa para siswa juga banyak yang memilih tak memakai alas kaki karena tanah masih sangat basah.
“Senang-seneng saja ujian di tenda,” ujar Muhammad Ikhsan, 11, salah seorang murid, saat jam istirahat ujian.
Ikhsan dan mayoritas murid SDN 05 Batang Anai berasal dari Korong Kuliek, di kaki bukit Nagari Sungai Buluah Timur. Akses ke kampung tersebut sangat terbatas, apalagi di musim penghujan.
Rivo Herlino Putra, 11, salah seorang siswa yang tinggal di kampung tetangga di nagari yang sama, Simpang Kuliek, mengaku, harus pagi-pagi benar berangkat. Penelusuran Padang Ekspres menggunakan Google Map menunjukkan jarak dari Simpang Kuliek ke SDN 05 Batang Anai sekitar lima kilometer.
Menggunakan sepeda motor saja diperkirakan setidaknya 12 menit. Jalan kaki setidaknya tiga kali lipat lebih lama.
Itu pun jalan yang harus disusuri Rivo juga tak mudah. Sisi kanannya aliran Sungai Batang Anai, sedangkan di sisi kiri bukit. Sekarang kondisinya lebih ekstrem lagi karena ada badan jalan yang digerus aliran Sungai Batang Anai buntut galodo.
“Sekarang memang agak cemas kalau ke sekolah,” katanya.
Trauma dan Syukur
Pelaksana Tugas Kepala SDN 05 Batang Anai Lisa Rifendi masih mengingat betul detik-detik air Batang Anai meluap dan berubah menjadi arus perkasa pada Kamis (27/11) dua pekan lalu. “Dalam hitungan menit sudah sampai ke atap,” tuturnya.
Bencana semakin menjadi-jadi ketika longsor dari bukit di belakang sekolah menyapu bangunan yang tersisa. Semua ruang belajar dan ruang guru hancur. Hanya perpustakaan yang bertahan.
Beruntung, saat banjir besar itu terjadi, para siswa memang tengah diliburkan karena hujan lebat sehari sebelumnya. Namun, sejak hari itu, kegiatan belajar mengajar lumpuh total.
Sebanyak 94 siswa dari kelas I hingga kelas VI kehilangan ruang belajar mereka. Namun, menjelang masa ujian, bantuan berbagai pihak mengalir. Sebuah tenda darurat didirikan, memberi ruang alternatif bagi para peserta didik untuk tetap menjalankan ujian yang berlangsung hingga Kamis (11/12).
Bagi Lisa, terlaksananya ujian bukan sekadar rutinitas sekolah, tetapi bukti bahwa banyak hati sedang bekerja bersama. “Dukungan yang datang dari berbagai pihak di Padang Pariaman membuat kegiatan ujian ini tetap bisa berjalan,” ujarnya.
Tolong Bangun Sekolah Kami
Wakil Bupati Padangpariaman Rahmat Hidayat melakukan monitoring pelaksanaan ujian ke dua sekolah terdampak, dimulai dari SDN 05 Batang Anai. Kedatangannya disambut senyum malu-malu para murid yang duduk di bawah tenda bantuan BNPB.
Rahmat berjalan menyapa satu per satu siswa seolah memberi suntikan tenaga bagi anak-anak yang tak lagi punya kelas permanen. Namun ia pun tak menutup rasa prihatin terhadap kondisi bangunan sekolah yang kini hanya tinggal puing.
“Kondisi SDN 05 ini sudah tidak memungkinkan dipakai sama sekali, jadi ujian harus kita pindahkan ke tenda,” ujarnya.
Meski demikian, ia bersyukur semangat para murid tetap utuh. Soal-soal ujian tetap mereka kerjakan dengan penuh kesungguhan meski kaki berpijak pada tanah yang masih lembap.
Perjalanan rombongan berlanjut ke SDN 17 Sungai Buluah Barat, sekolah lain yang juga diterjang banjir. Berbeda dengan SDN 05, ruang kelas di sekolah ini berhasil dibersihkan lebih cepat sehingga ujian dapat dilaksanakan di dalam ruangan.
“Terima kasih kepada seluruh petugas dan relawan yang terus berjibaku membantu masyarakat bangkit,” ucap Rahmat.
Bagi Ikhsan dan teman-temannya, yang paling diharapkan kini, mereka tak terlalu lama bersekolah di tenda darurat. “Tolong bangun sekolah kami,” katanya. (ARIS PRIMA GUNAWAN, Padang Pariaman/ttg/JPG/r3)
Editor : Jelo Sangaji