Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Akibat Tanah Gerak di Kota Semarang, Bayi Dua Pekan Ikut Rasakan Getirnya Mengungsi

Lombok Post Online • Jumat, 13 Februari 2026 | 15:30 WIB

WARGA TERDAMPAK: Keadaan Supardi dan Subianti, warga Kampung Sekip, Sapta Marga III RT 7 RW 1 Kelurahan Jangli Kecamatan Tembalang, Kamis (12/2) pagi.
WARGA TERDAMPAK: Keadaan Supardi dan Subianti, warga Kampung Sekip, Sapta Marga III RT 7 RW 1 Kelurahan Jangli Kecamatan Tembalang, Kamis (12/2) pagi.
 

LombokPost - Sore Rumah Kami Masih Biasa, Pagi Tahu-Tahu Sudah Miring. Retakan Pertama Muncul di Bagian Depan Rumah

Tiap hujan deras, Canna Syifa Rahmadani harus dibawa ayah, ibu, serta kakek dan neneknya meninggalkan hunian darurat untuk berteduh di masjid seberang jalan. Rumah keluarga tersebut yang pertama ambruk akibat tanah gerak dan kini hanya berharap bisa segera direlokasi.

DI sebuah sudut Kampung Sekip Sapta Marga III RT 7 RW 1 Kota Semarang, sebuah papan rumah berdiri miring. Tiang penyangga diganjal kayu seadanya. Sementara beberapa meter di belakangnya, hamparan tanah sudah berubah menjadi puing.

Sejak tanah di Kampung Sekip terus bergerak, warga terpaksa bertahan di hunian darurat. Bahkan, seorang bayi yang baru lahir dua pekan lalu pun ikut merasakan getirnya pengungsian.

Di teras bangunan sederhana beratap seng dan asbes, seorang pria duduk menatap kosong ke arah bekas rumahnya yang telah rata tanah. Tak jauh dari situ, papan, kayu kaso, dan lembaran seng bertumpuk menjadi saksi rumah yang tak lagi bisa dihuni.

Di sudut lain, dua perempuan duduk di tepi jalan paving. Yang satu menggendong bayi dibalut selimut merah muda, sementara seorang nenek di sampingnya menatap puing kayu dengan wajah getir.

Bayi yang digendong Subianti itu adalah cucunya, Canna Syifa Rahmadani, yang lahir dua pekan lalu di tengah situasi tanah mulai retak dan rumah perlahan miring. Subianti sudah tinggal di kawasan ibu kota Jawa Tengah tersebut sejak lahir pada 1982. Orang tuanya lebih dulu menetap tujuh tahun sebelumnya setelah merantau dari Boyolali.

Kini, ia tinggal bersama anak dan menantunya, Dani dan Fitriani, serta cucunya yang belum genap selapan. “Dulu masih sedikit rumah, belum padat seperti sekarang,” ujarnya.

Retakan pertama, kata dia, muncul di bagian depan rumah. Awalnya kecil, namun kian hari melebar. Di samping kamar anaknya, tanah mulai menggembung dan ambles ke dalam. “Sore masih biasa, pagi tahu-tahu sudah miring. Cepat sekali geraknya,” tuturnya.

Sekadar Tempat Berteduh

Rumah yang dihuni lima orang itu akhirnya dibongkar separo. Subianti dan keluarganya membuat bangunan kecil darurat di samping rumah lama, sekadar agar ada tempat berteduh menjelang persalinan.

Cucunya lahir di rumah sakit pada akhir Januari, tepat ketika kondisi tanah gerak semakin parah. Kini, Canna ikut tinggal di hunian sementara berdinding papan tipis itu.

Supardi, suami Subianti, menambahkan, pergerakan tanah pertama kali disadari setelah hujan deras sekitar dua pekan lalu. Rumah berukuran sekitar 4 x 10 meter miliknya menjadi bangunan pertama yang ambruk.

Jika hujan deras turun, mereka terpaksa mengungsi ke rumah saudara atau ke masjid di seberang jalan. “Harapannya bisa ditempatkan di lokasi yang aman, yang tidak longsor lagi,” ujarnya.

Supardi yang lahir di kawasan itu pada 1975 menggantungkan hidup dari merawat dan menjual kambing milik orang lain dengan sistem bagi hasil. Pergerakan tanah membuatnya kebingungan memikirkan nasib ternak yang rencananya akan dijual beberapa bulan ke depan.

“Belum tahu mau bikin kandang di mana,” katanya.

Pergerakan tanah tidak hanya merusak satu rumah. Setelah rumah Supardi ambruk, disusul rumah warga lain hingga sedikitnya dua rumah dan satu balai RT terpaksa dirobohkan karena kondisi miring dan berbahaya. Total ada 15 rumah yang mengalami kerusakan parah dan tak bisa lagi ditinggali.

Beberapa bangunan kini tinggal pondasi dan tumpukan kayu. Warga menyebut kejadian serupa pernah terjadi sekitar dua dekade lalu, namun tidak separah sekarang. Meski demikian, Subianti dan Supardi mengaku tetap bersyukur karena perhatian pemerintah mulai datang. Mereka juga berharap bisa direlokasi.

“Yang penting ada tempat buat tinggal dulu yang tidak bergerak lagi,” ucapnya. (FIGUR RONGGO WASSALIM, Kota Semarang/ttg/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#semarang #bayi #pemerintah #Boyolali #lahir