LombokPost - Ketika menjadi diaspora di luar negeri, hal-hal kecil dan terkesan rutinitas selama bulan Ramadan justru menjadi sumber kerinduan yang luar biasa kepada kampung halaman. Seperti yang diungkapkan Yusron Hafizi. Selama merantau di Taiwan, ia sangat merindukan suasana buka puasa bersama (bukber) bersama keluarga, kerabat, dan sahabat. Bahkan ia merindukan momen-momen saat dibangunkan sahur melalui Toa masjid.
Silak inaq, amaq, semeton selapuk pade tures sahur. Sahur... Sahur.... Sahur...!!! (Ibu, bapak, saudara semuanya silakan bangun untuk santap sahur. Sahur... Sahur.... Sahur...)
Seruan familiar dari speaker masjid di Pulau Lombok itu begitu membekas di benak Yusron Hafizi. Suara yang selalu terdengar bersahut-sahutan saat waktu sahur tiba. Menggema dari masjid ke masjid yang menghidupkan suasana malam-malam bulan Ramadan.
Tapi suara dari TOA masjid itu kini tidak pernah didengar lagi oleh Yusron. Setidaknya selama empat kali menjalankan ibadah puasa Ramadan di Taiwan. Yang terasa hanya keheningan malam. "Kalau bangun sih tetap bangun untuk sahur. Tapi sepi sekali. Apalagi muslim di sini minoritas," kata Yusron Hafizi melalui sambungan telpon kepada Lombok Post, Senin (16/2).
Disampaikan, dirinya baru tersadar bahwa kegiatan atau ritual rutinitas saat Ramadan menjadi terasa sangat istimewa ketika berada di luar negeri yang minoritas muslim seperti di Taiwan. Selain bukber dan suara ajakan sahur, Yusron juga merindukan suara orang tadarus membaca Alquran di masjid dan musala. "Kalau di Lombok kan setiap hari kita dengar. Tapi di sini tidak ada sama sekali. Ini yang bikin kangen," ungkapnya lalu tertawa.
Di tengah kerinduan itu, ia tetap menjalankan ibadah puasa Ramadan. Meski harus bekerja di siang hari. Selama bekerja Taiwan, pria asli Ampenan, Mataram, itu sudah empat kali menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Menariknya, pihak perusahaan sudah mengetahui ada pekerja yang berpuasa. Khususnya pekerja dari negara-negara mayoritas Islam seperti Indonesia. Ini cukup memudahkan Yusron dan pekerja lainnya.
"Biasanya kita sudah sampaikan ke mandor. Bahwa mulai tanggal sekian sampai sekian akan menjalankan puasa Ramadan. Alhamdulillah mereka sudah paham," ujarnya.
Sehingga ini memudahkan Yusron dan pekerja muslim lainnya untuk tetap menjalankan ibadah puasa sambil bekerja. Ketika waktu berbuka tiba, mereka diberikan waktu istirahat untuk buka puasa dan menunaikan salat magrib. "Kebetulan pabrik dan mess berdekatan. Sehingga bisa jalan kaki pulang pergi," sambungnya.
Terkait lama waktu berpuasa di Taiwan hampir sama dengan di Indonesia. Bahkan bisa lebih pendek selama musim dingin seperti sekarang. Yusron menceritakan, Azan subuh berkumandang sekitar pukul 04.00 waktu setempat. Adapun waktu azan magrib sekitar pukul 17.10 sampai 17.20 waktu setempat. Artinya lama waktu puasa di Taiwan saat ini sekitar 13 jam. Ini berbeda ketika musim panas, azan magrib bisa sampai pukul 18.00 lewat.
"Makanya puasa kita di sini (Taiwan, Red) sekarang lebih pendek kalau musim dingin," katanya.
Soal makanan halal juga cukup mudah dijumpai di Taiwan. Apalagi warga lokal mengetahui bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Mereka pun tahu seorang muslim tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung daging babi. "Mereka tahunya kalau orang Indonesia tidak konsumsi babi dan minuman beralkohol. Makanya kami merasa terbantu," paparnya.
Tapi saat puasa Ramadan, Yusron mengaku lebih banyak membuat masakan sendiri. Karena bisa dipakai untuk sahur. Waktu libur dimanfaatkan untuk belanja ke pasar tradisional maupun pasar modern di sekitar lokasi kerja. Selain daging dan ayam, yang paling dicari adalah berbagai bahan makanan khas Lombok. Seperti kangkung, terasi, terong, tomat.
"Soalnya sering kangen dengan pelecing dan beberok. Makanya sering bikin sendiri," akunya kembali tertawa.
Pelecing dan beberok tidak hanya dimakan Yusron sendiri. Tapi pekerja lain asal Indonesia juga menyukai makanan khas Lombok itu. Maklum, di perusahaan tempat bekerja, Yusron sendirian asal NTB. Yang lain dari Jawa Timur, Jawa Barat, dan Sumatera. "Biasanya di mess kita masak bareng. Suka masak sesuai asal daerah masing-masing. Nanti saling berbagi," tuturnya.
Untuk mengobati kerinduan selama Ramadan, Yusron dan pekerja Indonesia lainnya di satu perusahaan sudah berencana untuk menggelar bukber. Itu akan digelar di distrik Taichung.
Perjalanan ke sana dari pabrik tempat bekerja sekitar 3 jam menggunakan kereta cepat. Selain buka puasa bersama, mereka juga menggelar pengajian yang dihadiri sesama WNI. Biasanya momen ini ikut dihadiri oleh pejabat dari Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipe. KDEI adalah perwakilan resmi Indonesia di Taiwan yang berfungsi sebagai kedutaan besar.
"Di acara bukber ini jadi pengobat rindu sesama diaspora. Kadang-kadang nggak sengaja juga ketemu dengan perantau dari Lombok," tuturnya.
Yusron berangkat ke Taiwan melalui program Special Placement to Taiwan (SP2T). Ia tiba di kawasan Asian Timur yang menjadi bagian dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) itu pada September 2022. Ayah tiga anak itu merantau demi sebuah asa untuk bisa memperbaiki ekonomi keluarga.
"Alhamdulillah saya bisa berangkat ke sini tanpa melalui biaya. Atau zero cost karena mengikuti program SP2T," ujar Yusron.
Di Taiwan ia bekerja di pabrik tekstil. Namanya Ho Yu Textile Co., Ltd. Perusahaan ini berbasis di Taoyuan City, Taiwan. Dari informasi situs resmi yang dihimpun Lombok Post, Ho Yu Textile Co., Ltd adalah produsen terkemuka tekstil teknis berkinerja tinggi yang didirikan tahun 1964.
Perusahaan ini spesialis dalam bahan industri, militer (jaring kamuflase, rompi anti peluru), kesehatan, dan luar ruangan (outdoor). Perusahaan ini terintegrasi secara vertikal, mulai dari tenun hingga pelapisan (coating). "Di sini saya bekerja sebagai operator mesin. Kontraknya setiap tiga tahun dan bisa diperpanjang. Sekarang sudah masuk kontrak kedua," tuturnya.
Ia pun mengimbau warga NTB yang ingin bekerja di Taiwan untuk mengikuti program SP2T agar bisa hemat biaya. Sebab banyak cerita para pekerja yang berangkat melalui pihak ketiga dimintai banyak biaya dengan dalih mengurus berbagai keperluan.
Biaya tersebut mencapai Rp 60–Rp 100 juta per orang. Tentu ini biaya yang cukup besar dan memberatkan bagi para keluarga pekerja.
"Makanya saya ingin berbagi informasi ke teman-teman di NTB, khususnya di Lombok. Gunakan jalur resmi lewat SP2T agar bisa zero cost," pungkas pria kelahiran 17 April 1984 itu. (*)
Editor : Pujo Nugroho