Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Para Diaspora NTB saat Puasa Ramadan di Tanah Rantau, Tanpa Azan, tanpa Bedug, Kamarudin Menjemput Magrib di Slovakia

Nurul Hidayati • Sabtu, 21 Februari 2026 | 10:11 WIB

 

LEBARAN: Kamarudin (kiri) foto bersama imam masjid Slovakia usai salat Idul Fitri tahun lalu.
LEBARAN: Kamarudin (kiri) foto bersama imam masjid Slovakia usai salat Idul Fitri tahun lalu.
 

LombokPost - Di Slovakia, tak ada gema azan yang memecah senja. Tak ada bedug yang ditabuh menjelang berbuka.

Di balik dinding bangunan tanpa kubah dan menara, Kamarudin perantau asal Gerung, Lombok Barat menjalani Ramadan dalam sunyi.

Dari deru mesin pabrik hingga seteguk air di sela kerja, ia menukar rindu dengan rezeki, dan kesepian dengan harapan masa depan anak-anaknya di Lombok.

Suara azan paling dinantikan saat menunggu waktu buka puasa.

Namun suara azan ini tidak terdengar di negara yang muslimnya minoritas seperti di Slovakia.

Ramadan di Slovakia, berjalan dalam keheningan tanpa gema suara muazin maupun tabuhan bedug yang membelah fajar.

Sebagai negara yang tidak mengizinkan menara masjid menjulang, komunitas muslim di sana harus beribadah di gedung-gedung "tersembunyi" tanpa simbol bulan bintang.

Tanpa aba-aba pengeras suara, hanya mengandalkan jam dan keyakinan saat menyantap menu sederhana sebelum fajar menyingsing.

Tantangan terberat muncul saat jam kerja tumpang tindih dengan waktu berbuka, memaksa hanya membatalkan puasa dengan seteguk air di tengah deru mesin.

Rekan kerja lokal sering merasa heran melihat walaupun sedang puasa tanpa makan minum selama bekerja, tetap bertenaga meski bekerja dengan perut kosong seharian penuh.

Ramadan di Slovakia adalah tentang perjuangan menjemput rezeki sekaligus memeluk kesunyian demi masa depan pendidikan buah hati di Lombok.

Baca Juga: Cerita Para Diaspora NTB saat Puasa Ramadan di Tanah Rantau, Yusron Hafizi Kangen Bukber hingga Suara Toa Masjid Bangunkan Sahur

Bagi Kamarudin, pria asal Gerung, Lombok Barat, Ramadan di jantung Eropa tengah ini adalah tentang kesunyian yang tangguh.

Tahun ini menjadi tahun kelima bagi Kamarudin menjalankan ibadah puasa jauh dari pelukan keluarga.

Perjalanannya mencari rida dan rezeki dimulai sejak Oktober 2021.

Dari dinginnya Polandia, hangatnya Alicante di Spanyol, hingga kini ia menetap di Slovakia sebuah negara yang secara resmi tidak mengizinkan berdirinya masjid dengan kubah atau menara yang menjulang.

“Di sini, masjid itu tersembunyi. Tidak ada plang nama, tidak ada simbol bulan bintang. Komunitas muslim menyewa bangunan biasa yang disulap jadi tempat sujud. Tapi ajaibnya, kalau cari di Google Maps, ketemu saja jalannya,” kenang Kamarudin memulai ceritanya.

Kenangan Polandia dan Spanyol

Ingatan Kamarudin melayang ke tahun pertamanya di Polandia (2021). Itulah ujian fisik terberatnya.

Bayangkan, 10 hari menjelang Idul Fitri, ia harus menahan lapar dan dahaga selama 18 jam. Imsak pukul 03.00, baru berbuka pukul 21.00.

“Saya sempat tumbang. Kerja di pabrik tanpa seteguk air dalam durasi sepanjang itu membuat saya masuk angin hebat. Akhirnya saya terpaksa berbuka sebelum waktunya. Sedih, tapi raga punya batas,” tuturnya.

Bahkan saat Idul Fitri tiba, ia tetap harus membanting tulang karena jatuh di hari kerja. Nasib membaik saat ia bergeser ke Alicante, Spanyol, setahun kemudian.

Meski durasi puasa musim semi hampir sama, ia bekerja di restoran dengan ritme yang lebih manusiawi.

“Majikan saya baik, saya diberi libur saat Idul Fitri. Saya salat Id di lapangan kota bersama jamaah dari Maroko dan Turki. Khutbahnya dua bahasa, Arab dan Inggris. Rasanya seperti menemukan keluarga baru,” katanya.

Antara Mesin Pabrik dan Pelecing Ayam

Kini di Slovakia, rutinitasnya kian mekanis namun sarat makna. Shift pabrik dimulai pukul 06.00. Artinya, pukul 04.00 ia sudah harus terjaga.

Tanpa aba-aba sahur dari masjid, ia makan seadanya sebelum fajar menyingsing pukul 05.15.

Ujian sesungguhnya datang saat jam pulang kerja tak sinkron dengan waktu berbuka.

Jika overlap, Kamarudin hanya sanggup membatalkan puasa dengan seteguk air putih di sela deru mesin pabrik. Makan besar baru dilakukan setibanya di rumah.

“Masak sendiri. Sesuka hati saja. Kadang bikin pelecing ayam, opor, atau sayur bening. Kalau sudah lelah sekali, telur ceplok dengan nasi dan garam saja sudah cukup. Nikmat itu soal syukur, bukan menu,” ungkapnya.

Rekan-rekan kerjanya yang warga lokal seringkali gagal paham. Mereka heran melihat Kamarudin tetap bertenaga meski perut kosong seharian.

“Mereka tanya dapat tenaga dari mana. Saya cuma jawab 'sudah biasa' sambil tersenyum. Menjelaskan konsep iman ke mereka itu sulit, biarlah mereka melihat dari semangat kerja kami saja,” tegasnya.

Namun, di balik ketegarannya, ada saat-saat pertahanan emosionalnya runtuh. Terutama saat menatap layar ponsel, melihat anak-anaknya di Lombok.

“Kalau ditanya sedih atau tidak buka puasa sendiri, jelas sedih. Terkadang menangis dalam hati. Tapi semua ini demi pendidikan anak-anak saya,” suaranya sempat bergetar.

Bagi Kamarudin, Ramadan di Slovakia bukan sekadar menahan lapar.

Ini adalah tentang kerinduan pada suara bedug, takbiran yang bersahut-sahutan, dan piring berisi opor ayam campur urap buatan rumah. Sebuah kemewahan yang tak bisa dibeli dengan Euro manapun. (Nurul Hidayati, Mataram/r3)

Editor : Kimda Farida
#ramadan #Azan #eropa #Puasa #slovakia #Lombok